ACEH — Pulau Miang selama ini dikenal sebagai salah satu titik andalan wisata bahari di Kutai Timur, namun tekanan aktivitas manusia dan perubahan lingkungan membuat terumbu karang di sekitarnya kian rapuh. Menjawab persoalan itu, PAMA bersama PT KPP Mining Distrik Inde dan Forum Alien Mangrove menggagas transplantasi karang yang menyasar kawasan konservasi perairan desa setempat. Kolaborasi Tiga Pihak untuk Pemulihan Terumbu Karang
Pelaksanaan teknis transplantasi dilakukan dalam dua tahap menggunakan 50 media tanam yang disebar di titik-titik yang telah disurvei. Jenis karang yang ditanam beragam, mulai dari Acropora cervicornis, Acropora microphthalma, hingga Montipora danae, yang dipilih karena daya adaptasinya terhadap perairan dangkal Pulau Miang.
CSR Department Head PAMA Distrik KPC, Agung Dwi, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar proyek lingkungan jangka pendek, melainkan investasi ekologis yang hasilnya akan dinikmati masyarakat pesisir dalam beberapa tahun ke depan.
"Melalui program ini, PAMA bersama mitra berupaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pelestarian lingkungan. Kami berharap terumbu karang yang ditransplantasikan dapat mendukung peningkatan populasi ikan, menjaga keseimbangan ekosistem, serta memberikan nilai tambah bagi pengembangan wisata bahari Pulau Miang," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (20/8). Warga Lokal Jadi Garda Terdepan Konservasi
Sebelum penanaman karang dimulai, PAMA dan mitra lebih dulu menggelar sosialisasi kepada Pokdarwis Pulau Miang. Materi yang diberikan mencakup fungsi ekologis terumbu karang sebagai tempat pemijahan ikan serta teknik perawatan karang transplantasi agar tingkat kelangsungan hidupnya tinggi.
Ketua Forum Alien Mangrove Sangatta, Faisal, menyebut keterlibatan warga menjadi kunci keberhasilan program semacam ini. Ia mengapresiasi dukungan pendanaan dan pendampingan teknis dari PAMA dan KPP Mining.
"Kami berterima kasih kepada PAMA dan KPP atas dukungan terhadap kegiatan konservasi ini. Kolaborasi seperti ini penting untuk menjaga ekosistem laut sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat Pulau Miang," ungkapnya.
Apresiasi serupa disampaikan tokoh masyarakat Pulau Miang, Anwar Ashaf. Ia berharap program konservasi tidak berhenti pada penanaman awal, tetapi dilanjutkan dengan pemantauan berkala agar karang yang tumbuh benar-benar memberikan dampak ekonomi bagi warga, terutama dari sektor ekowisata. Menjaga Keseimbangan antara Operasional Tambang dan Kelestarian Alam
Bagi PAMA, keberlanjutan ekosistem pesisir merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab perusahaan di sekitar wilayah operasional. Kolaborasi dengan komunitas lingkungan dan pemerintah desa dinilai menjadi model ideal untuk memastikan aktivitas industri berjalan selaras dengan upaya konservasi.
Dengan adanya 500 fragmen karang baru, kawasan terumbu karang Pulau Miang diharapkan mampu menjadi rumah bagi beragam biota laut dan magnet bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan bawah laut Kutai Timur. Inisiatif ini sekaligus menegaskan posisi PAMA sebagai perusahaan tambang yang tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada pemulihan ekosistem pesisir yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat pesisir.