Pencarian

Robot Jadi Panggung Baru AI, Timah dan Amman Mineral Kebagian Peluang

Senin, 24 Agustus 2026 • 19:16:02 WIB
Robot Jadi Panggung Baru AI, Timah dan Amman Mineral Kebagian Peluang
Robot pengangkut material tambang beroperasi di area penambangan di Aceh, Senin (24/8/2026).

ACEH — Setelah investasi besar-besaran mengalir ke pusat data, cloud, dan jaringan telekomunikasi, gelombang kecerdasan buatan kini memasuki fase baru: otomatisasi fisik. Fase ini ditandai dengan penggunaan robot, kendaraan otonom, dan mesin industri berbasis AI yang diprediksi akan mengubah lanskap bisnis di Indonesia.

Riset KB Valbury Sekuritas bertajuk The AI Economy: Unlocking Indonesia’s Growth Potential Amid Structural Constraints yang terbit 21 Agustus 2026 memetakan perkembangan AI di Indonesia dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pembangunan infrastruktur seperti data center dan fiber optik, disusul pengembangan software dan keamanan siber, lalu puncaknya adalah otomatisasi fisik.

Manufaktur dan Tambang Jadi Sektor Paling Diuntungkan

Fase otomatisasi fisik ini diproyeksikan memberi dampak terbesar pada sektor manufaktur dan pertambangan. Data dari e-Conomy SEA, Cisco, dan World Bank 2026 yang dikutip KB Valbury menunjukkan kedua sektor ini membutuhkan belanja modal tinggi untuk mengadopsi teknologi seperti computer vision, robotika, dan digital twins.

Di sektor tambang, penerapannya mencakup kendaraan otonom dan predictive maintenance. Kebutuhan investasinya meliputi peralatan otonom, sensor, dan konektivitas edge computing.

Eksposur Langsung ke Logam Tanah Jarang Masih Tipis

Meski peluang terbuka, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengingatkan bahwa Indonesia belum memiliki deposit neodymium atau logam tanah jarang (LTJ) yang signifikan secara komersial. "Jadi eksposur langsung ke rare earth mining masih minim," ujarnya, Senin (24/8).

Wafi menilai komoditas yang lebih relevan justru nikel untuk baterai dan motor, serta tembaga sebagai material konduktor. Namun, keterkaitan nikel dengan robotika masih lebih lemah karena lebih erat dengan ekosistem kendaraan listrik.

Analis komoditas sekaligus Pendiri Traderindo.com Wahyu Laksono menambahkan, ada tiga komponen mekanikal utama dalam robot: aktuator, girboks presisi tinggi, dan magnet permanen. Untuk magnet permanen berdaya tinggi, material pentingnya adalah neodymium yang bisa diperoleh dari mineral ikutan monasit pada tailing tambang timah.

Sayangnya, Indonesia belum memiliki fasilitas pemurnian LTJ tingkat lanjut dan industri hilir permesinan presisi tinggi. "Jangka panjang sangat besar seiring eskalasi adopsi robotika global, namun posisi Indonesia saat ini masih terkonsentrasi di sektor hulu komoditas," kata Wahyu.

Dua Emiten yang Berpotensi Diuntungkan

PT Timah Tbk (TINS) menjadi salah satu emiten yang disebut berpotensi terpapar rantai pasok LTJ melalui monasit. Wahyu menyebut TINS tengah mengembangkan riset pengolahan monasit dan menargetkan industrialisasi logam tanah jarang.

KB Valbury juga mencatat TINS telah menggunakan AI untuk analisis mineral guna meningkatkan cadangan timah. Meski demikian, eksposur robotik TINS masih bersifat potensial dan bergantung pada keberhasilan komersialisasi LTJ.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) berada di rantai pasok tembaga yang digunakan sebagai material konduktor pada komponen listrik dan motor. KB Valbury mencatat perusahaan tambang ini telah mengimplementasikan AI dalam operasionalnya.

Dengan kondisi industri yang ada, peluang jangka pendek Indonesia memang lebih banyak di sisi hulu dan komponen pendukung. Adapun nilai tambah terbesar dari industri robot masih berada pada teknologi dan manufaktur komponen presisi yang belum dikuasai industri dalam negeri.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks