ACEH UTARA — Pemerintah pusat menempatkan Bendungan Keureuto sebagai garda terdepan menghadapi musim kemarau panjang dan fenomena El Nino di Provinsi Aceh. Infrastruktur milik Kementerian Pekerjaan Umum (PU) ini tidak hanya berfungsi menampung air, tetapi juga menjadi mesin produksi pangan baru bagi petani di Kabupaten Aceh Utara dan sekitarnya.
Dengan luas genangan mencapai 896,39 hektare, bendungan ini mampu menyuplai air baku sebesar 0,65 meter kubik per detik untuk kebutuhan masyarakat. Jaringan irigasi sepanjang 75,94 kilometer yang dibangun dari bendungan ini menopang produktivitas gabah kering panen hingga rata-rata 5,5 ton per hektare.
Menteri PU: Optimalisasi Operasi Bendungan Kunci Hadapi Kekeringan
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya air menjadi prioritas untuk menjamin kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian. Menurutnya, optimalisasi operasi bendungan dan infrastruktur air terus dilakukan secara berkelanjutan.
"Optimalisasi operasi bendungan dan infrastruktur air terus dilakukan agar pasokan air baku, irigasi, serta pengendalian banjir tetap terjaga," ujar Dody dalam pernyataan resminya di Aceh Utara.
Multiguna: Dari Listrik 185,62 MW hingga Reduksi Banjir 627 Hektare
Bendungan Keureuto dirancang sebagai bendungan multiguna yang tidak hanya mendukung irigasi. Infrastruktur ini juga dikembangkan untuk penyediaan air baku, pengendalian banjir, dan energi terbarukan.
Potensi energi yang dapat dikembangkan dari bendungan ini diperkirakan mencapai 185,62 MW. Kombinasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung akan dibangun untuk memaksimalkan potensi tersebut.
Di sisi lain, keberadaan bendungan ini mampu mengurangi potensi banjir di wilayah hilir seluas sekitar 627 hektare. Hal ini menjadi solusi jangka panjang bagi kawasan yang kerap terdampak luapan air saat musim hujan.
Bagaimana Dampaknya bagi Petani Lokal?
Kenaikan indeks pertanaman dari 200 persen menjadi 300 persen berarti petani dapat menanam padi hingga tiga kali dalam setahun. Sebelumnya, keterbatasan air kerap membatasi petani hanya satu hingga dua kali musim tanam.
Peningkatan frekuensi tanam ini berbanding lurus dengan produksi beras daerah. Dengan produktivitas 5,5 ton gabah kering panen per hektare, Aceh Utara berpotensi menjadi lumbung pangan baru di kawasan barat Indonesia.
Proyek ini merupakan bagian dari visi pembangunan infrastruktur PU yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah ekonomi. Selain memperkuat ketahanan pangan, keberadaan bendungan ini diharapkan mendorong kesejahteraan masyarakat sekitar melalui aktivitas ekonomi baru di sektor pertanian dan pariwisata waduk.