Pencarian

Riset UTU Rancang Model Hilirisasi Jagung di Aceh Jaya untuk Putus Rantai Tengkulak dan Dukung Program MBG

Minggu, 02 Agustus 2026 • 16:40:01 WIB
Riset UTU Rancang Model Hilirisasi Jagung di Aceh Jaya untuk Putus Rantai Tengkulak dan Dukung Program MBG
Petani memanen jagung di lahan pertanian Kecamatan Teunom, Aceh Jaya, sentra produksi jagung setempat.

CALANG — Kecamatan Teunom yang selama ini menjadi sentra produksi jagung di Aceh Jaya menyimpan ironi. Dari total produksi 1.061 ton per tahun, sekitar 250 ton di antaranya dihasilkan dari kecamatan ini, namun sebagian besar petani masih hidup dalam bayang-bayang fluktuasi harga karena hasil panen dijual dalam bentuk jagung pipilan kering melalui tengkulak.

Menyikapi kondisi itu, tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar (UTU) yang dipimpin Safrika bersama Bagio dan Kamalia Ulfa menyusun kajian berjudul "Penguatan Resiliensi Pangan dan Kapabilitas Ekonomi Petani Melalui Model Hilirisasi Jagung: Studi Strategis Pembangunan Daerah Kabupaten Aceh Jaya". Hasil riset ini dipublikasikan pada Kamis (30/7/2026).

Struktur Pasar Timpang, Petani di Posisi Paling Rentan

Penelitian yang menggunakan metode cluster random sampling terhadap 100 petani dari 72 kelompok tani di 20 desa ini menemukan akar persoalan utama: struktur transaksi pasar yang timpang. Nilai tambah ekonomi justru terserap pihak luar, sementara posisi tawar petani berada di tingkat paling rentan terhadap gejolak harga.

"Struktur transaksi pasar yang timpang ini menyebabkan nilai tambah ekonomi terserap pihak luar, sementara posisi tawar petani tetap berada di tingkat paling rentan terhadap fluktuasi harga," terang Ketua Tim Peneliti, Safrika.

83,6 Persen Daya Beli Petani Ditentukan Lima Faktor

Analisis regresi linear berganda yang dilakukan tim peneliti menunjukkan nilai Adjusted R Square sebesar 0,836. Artinya, 83,6 persen variasi daya beli rumah tangga petani di Teunom dipengaruhi oleh lima faktor secara bersama-sama: ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, pemanfaatan pangan, perkembangan struktur pendapatan, serta nilai tukar pendapatan rumah tangga petani.

Dari hasil uji parsial, perkembangan struktur pendapatan dari hilirisasi jagung menjadi faktor paling dominan dengan nilai t-hitung 5,000. Disusul nilai tukar pendapatan rumah tangga petani (4,200), pemanfaatan pangan (3,500), keterjangkauan pangan (3,200), dan ketersediaan pangan (2,500).

Mayoritas Petani Lulusan SD dengan Lahan di Bawah 1 Hektare

Profil demografis petani Teunom turut memengaruhi kerentanan ekonomi mereka. Sebanyak 78 persen petani adalah laki-laki dengan rentang usia dominan 41 hingga 55 tahun (45 persen). Tingkat pendidikan didominasi lulusan Sekolah Dasar sebesar 38 persen dan SMP 31 persen.

Meski produktivitas lahan tergolong tinggi—mencapai 4,9 hingga 5,0 ton per hektare dengan indeks pertanaman 200—sebanyak 57 persen petani hanya mengelola lahan di bawah 1 hektare. Ketergantungan pada varietas homogen seperti NASA 29 juga mencapai 88 persen, meningkatkan risiko gagal panen akibat serangan hama atau penyakit.

Model Koperasi Merah Putih: Integrasi Hulu ke Hilir

Sebagai solusi, tim peneliti merancang Model Agroindustri Jagung Inklusif Berbasis Koperasi Merah Putih yang mengintegrasikan lima dimensi utama: subsistem hulu, pengolahan, kelembagaan dan pendampingan, pasar dan konsumen, serta ekonomi sirkular.

Pada subsistem hulu, model ini mendorong mekanisasi pertanian, teknologi perbanyakan benih, dan irigasi presisi. Di sektor pengolahan, koperasi difasilitasi memiliki unit penepungan, penyosohan beras jagung, hingga pencampuran pakan ternak. Targetnya, koperasi mampu menyerap sedikitnya 30 persen hasil panen petani.

"Model agroindustri jagung inklusif berbasis Koperasi Merah Putih yang dirumuskan dalam penelitian ini menawarkan solusi terintegrasi yang tidak hanya meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memperkuat resiliensi pangan, menciptakan ekosistem ekonomi sirkular, dan mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis," ujar Safrika.

Kolaborasi Tiga Aktor Kunci Penentu Keberhasilan

Dalam skema ini, Koperasi Merah Putih berperan sebagai agregator dan penjamin mutu bahan baku lokal. Pemerintah daerah bertindak sebagai regulator dan fasilitator, sementara perguruan tinggi menjadi pendamping teknis. Sistem pemasaran dibagi untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat lokal sekaligus pasar komersial.

Konsep ekonomi sirkular juga diusung dengan memanfaatkan limbah tongkol dan dedak jagung menjadi pakan ternak maupun pupuk organik. Integrasi dengan rantai pasok MBG diharapkan memastikan petani memperoleh harga jual lebih adil dan pasar yang lebih pasti.

"Keberhasilan model ini sangat bergantung pada kolaborasi tiga aktor utama: koperasi sebagai penggerak utama, pemerintah daerah sebagai fasilitator, dan institusi akademisi sebagai pendamping teknis," pungkas Safrika.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: nukilan.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks