Pencarian

Pemkot Banda Aceh Terapkan WCP di 10 Gampong, Target Kurangi 250 Ton Sampah Harian ke TPA

Kamis, 16 Juli 2026 • 16:23:29 WIB
Pemkot Banda Aceh Terapkan WCP di 10 Gampong, Target Kurangi 250 Ton Sampah Harian ke TPA
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, mensosialisasikan penerapan Waste Collecting Point (WCP) di 10 gampong untuk mengurangi beban sampah ke TPA.

BANDA ACEH — Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, resmi mensosialisasikan penerapan Waste Collecting Point (WCP) di 10 gampong pada Rabu (15/7/2026). Program ini mendorong pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga.

Mengapa Pemkot Banda Aceh Menerapkan WCP?

Illiza menyebut persoalan sampah di Banda Aceh kini bukan lagi sekadar masalah kebersihan, melainkan tantangan pembangunan perkotaan. Dengan produksi sampah harian yang mencapai 250 ton, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dinilai tidak akan mampu menampung jika tidak ada intervensi dari hulu.

"Paradigma kita harus berubah. Sampah tidak boleh lagi dipandang sebagai sesuatu yang selesai ketika dibuang," kata Illiza dalam keterangan tertulis. Ia menekankan sampah harus dilihat sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan lingkungan melalui prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).

10 Gampong Jadi Percontohan, Shelter dan Pelatihan Disiapkan

Pelaksanaan WCP tidak sekadar menyediakan tempat pengumpulan sampah. Pemkot membangun shelter penampungan sampah terpilah, menyediakan sarana prasarana pemilahan, serta menggelar sosialisasi dan pelatihan bagi warga di 10 gampong. Monitoring pelaksanaan juga akan dilakukan secara berkala.

Kepala Dinas Perkim Kota Banda Aceh, Hendra Gunawan, menyebut program ini adalah prioritas Pemkot dan memperkuat inovasi pengelolaan sampah yang telah berjalan. Banda Aceh sebelumnya meraih CityNet SDG City Awards berkat inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Peran Perempuan: KWT Jadi Pengelola Utama WCP

Illiza mengapresiasi Dinas Perkim yang melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) sebagai pengelola WCP. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran keluarga untuk memilah sampah sejak dari rumah.

"Mereka bisa mengedukasi lingkungan sekitarnya," ujar Illiza. Program ini merupakan bagian dari inisiatif ASRI (Aksi Solutif untuk Ramah Lingkungan) yang dijalankan Pemkot Banda Aceh.

Target: Budaya Peduli Lingkungan dari Rumah

Illiza menegaskan keberhasilan WCP bergantung pada kolaborasi seluruh pihak: pemerintah, aparatur gampong, dunia usaha, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, hingga tokoh agama. Ia mengajak semua peserta sosialisasi menjadikan momen ini sebagai penguat komitmen bersama.

"Dengan semangat Banda Aceh Kota Kolaborasi, saya yakin persoalan sampah dapat kita atasi apabila seluruh unsur bergerak bersama," pungkasnya. Pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitas, masyarakat membangun budaya disiplin, dan dunia usaha berpartisipasi aktif.

Bagikan
Sumber: pintoe.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks