Pencarian

Polemik Rehabilitasi Meuligoe di Aceh: Warga Pertanyakan Skala Prioritas Pascabanjir, Delapan Bulan Lumpur Belum Surut

Kamis, 16 Juli 2026 • 16:06:31 WIB
Polemik Rehabilitasi Meuligoe di Aceh: Warga Pertanyakan Skala Prioritas Pascabanjir, Delapan Bulan Lumpur Belum Surut
Lumpur masih menyelimuti halaman rumah warga di Bireuen delapan bulan pascabanjir besar.

BIREUEN — Delapan bulan setelah banjir besar melanda Aceh, jejak lumpur masih membekas di halaman rumah warga dan areal persawahan. Namun, perbincangan publik justru ramai mengarah pada rencana rehabilitasi Meuligoe Wali Nanggroe, sebuah bangunan bersejarah yang dinilai kurang mendesak oleh sebagian kalangan.

Di linimasa media sosial Aceh, mulai dari Facebook hingga grup WhatsApp, warga melontarkan pertanyaan serupa: mengapa pemulihan infrastruktur dasar seperti jembatan dan jalan belum tuntas, sementara proyek rehabilitasi gedung simbolik sudah bergulir? Pertanyaan ini bukan lahir dari kebencian terhadap simbol sejarah, melainkan dari kegelisahan atas urusan yang lebih konkret.

Kemacetan di Jembatan Darurat Jadi Cermin Pemulihan yang Pincang

Di Jembatan Bailey Kutablang, Bireuen, kemacetan masih menjadi pemandangan harian. Kendaraan mengular hampir tanpa ujung, dan pengendara harus menghabiskan waktu hingga tiga jam untuk melintasi jembatan darurat. "Tidak terdengar umpatan kasar, orang Aceh memang sabar. Tapi kesabaran bukan berarti persoalan selesai," tulis Fajri, Kepala Sekolah dan pegiat literasi, dalam catatan yang dimuat SAGOE TV.

Ia menambahkan bahwa bencana tidak berakhir ketika air surut. "Ia baru berakhir ketika masyarakat dapat kembali menjalani hidup secara normal," tulisnya. Sawah belum produktif, jalan rusak masih menunggu perbaikan, dan aktivitas ekonomi belum pulih sepenuhnya. Di titik-titik tertentu, mobilitas warga masih bergantung pada jembatan darurat.

Prinsip Prioritas: Rumah Rakyat atau Gedung Simbolik?

Dalam ilmu kebijakan publik, ketika sumber daya terbatas, pemerintah dituntut memilih kebutuhan yang paling mendesak. Fajri menekankan bahwa rumah pertama yang harus dibangun setelah bencana adalah rumah rakyat. Jembatan pertama yang harus selesai adalah yang setiap hari dilalui warga untuk bekerja dan bersekolah. "Bukankah jalan pertama yang harus dipulihkan adalah jalan yang menghubungkan pasar dengan seluruh ekosistemnya?" tulisnya.

Aceh pernah menjadi contoh dunia saat bangkit dari tsunami 2004. Saat itu, yang dipulihkan lebih dulu adalah denyut kehidupan masyarakat: rumah, jalan, sekolah, dan pelabuhan. Dunia membantu karena pusat perhatian adalah manusia, bukan gedung.

Harapan Warga: Pemulihan Ekonomi dan Mobilitas Harus Jadi Prioritas

Bagi masyarakat yang masih terluka oleh dampak banjir, kapan Meuligoe selesai diperbaiki bukanlah pertanyaan penting. "Yang penting bagi mereka kapan anak-anak kembali berangkat sekolah tanpa harus mengantre berjam-jam di jembatan darurat. Kapan sawah-sawah mereka dibersihkan dari lumpur dan terairi kembali," kata Fajri dalam catatannya.

Ia menegaskan bahwa dalam setiap bencana, yang paling membutuhkan rehabilitasi bukanlah bangunan, melainkan harapan. "Dan harapan itu selalu tumbuh ketika rakyat merasa bahwa mereka adalah prioritas utama," pungkasnya.

Bagikan
Sumber: sagoetv.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks