BANDA ACEH — Setelah dua tahun berturut-turut mengalami penurunan, jumlah dayah yang menerima bantuan pembangunan dan pengembangan prasarana melalui mekanisme swakelola akhirnya kembali naik. Dinas Pendidikan Dayah Aceh mencatat, pada 2026 sebanyak 207 dayah akan mendapatkan hibah tersebut, meningkat dari 126 dayah pada tahun sebelumnya.
Fluktuasi Penerima Hibah dalam Lima Tahun Terakhir
Data dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam sejak 2021. Pada tahun tersebut, tercatat 573 dayah menerima bantuan, lalu turun menjadi 495 dayah pada 2022, 373 dayah pada 2023, dan terus merosot hingga 202 dayah pada 2024. Titik terendah terjadi pada 2025 dengan hanya 126 dayah yang mendapat alokasi.
Kenaikan menjadi 207 dayah pada 2026 pun disebut sebagai titik balik. Angka ini masih jauh dari puncak penerima pada 2021, namun setidaknya menghentikan laju penurunan yang berlangsung selama empat tahun terakhir.
Swakelola: Dayah Bangun Sendiri, Inspektorat dan Kejati Awasi
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Abi Muhsin, mengatakan mekanisme swakelola merupakan bentuk kepercayaan pemerintah kepada pimpinan dayah. Melalui pola ini, pembangunan tidak lagi menggunakan kontraktor pihak ketiga, melainkan dikelola langsung oleh lembaga dayah masing-masing.
"Melalui pola swakelola, pembangunan tidak lagi bergantung pada pihak ketiga, tetapi dikelola langsung oleh dayah sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan dan diharapkan menghasilkan bangunan yang lebih berkualitas," ujar Abi Muhsin dalam acara penandatanganan Surat Perjanjian Swakelola di Banda Aceh.
Untuk menjaga transparansi, Pemerintah Aceh melibatkan Inspektorat Aceh dan Kejaksaan Tinggi Aceh dalam proses pendampingan dan pengawasan. Langkah ini diambil agar anggaran tepat sasaran dan pembangunan berjalan akuntabel.
Target Rampung November 2026, 102 Dayah Tanda Tangani Tahap Pertama
Penandatanganan kontrak tahap pertama diikuti oleh 102 pimpinan dayah yang berasal dari 22 kabupaten/kota di Aceh. Seluruh pekerjaan pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu lima bulan, sehingga fasilitas baru bisa dimanfaatkan para santri pada November 2026.
Pemerintah Aceh berharap peningkatan jumlah penerima hibah ini mampu memperkuat peran dayah sebagai pusat pendidikan Islam sekaligus mendongkrak kualitas sumber daya manusia di Aceh. Dengan infrastruktur yang lebih baik, proses belajar mengajar diharapkan berjalan lebih optimal.