ACEH — Keputusan strategis ini diambil dalam rapat puncak yang dipimpin langsung oleh CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, bersama COO Danantara Dony Oskaria dan CIO Danantara Pandu Sjahrir pada Selasa (7/7/2025).
Empat perusahaan yang dilebur meliputi PNM Investment Management, BNI Asset Management, BRI Manajemen Investasi, dan Mandiri Manajemen Investasi. Mandiri MI ditunjuk sebagai surviving entity atau perusahaan yang akan menjadi induk dari hasil merger ini.
Bukan Sekadar Rampingkan Struktur, Ini Target Besarnya
COO Danantara Dony Oskaria menegaskan bahwa penggabungan ini bukan sekadar penyederhanaan struktur perusahaan atau efisiensi biaya. Menurutnya, langkah ini adalah upaya fundamental untuk mengubah cara negara mengelola aset-aset BUMN yang selama ini tersebar di berbagai entitas.
“Streamlining itu bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana aset-aset BUMN yang sudah ditata bisa dikelola lebih optimal, lebih produktif, dan benar-benar menciptakan nilai tambah buat negara,” ujar Dony dalam keterangan resminya.
Target utama dari konsolidasi ini adalah mengintegrasikan portofolio aset BUMN yang sangat besar ke dalam satu manajemen. Dengan skala yang lebih besar, perusahaan hasil merger diharapkan memiliki daya tawar yang lebih kuat dan daya tarik investasi yang lebih tinggi, baik bagi investor domestik maupun global.
Dampak Langsung: Efisiensi, Produk Investasi, dan Nilai Tambah Negara
Secara operasional, merger ini diproyeksikan menghilangkan duplikasi fungsi antarperusahaan yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Misalnya, biaya operasional, sistem teknologi, hingga sumber daya manusia dapat dipusatkan, sehingga biaya kelola (expense ratio) bisa ditekan.
Selain itu, penggabungan ini memungkinkan pengembangan produk investasi yang lebih variatif dan kompetitif. Dengan basis aset yang lebih besar, perusahaan dapat menawarkan produk reksa dana, kontrak pengelolaan dana, hingga instrumen investasi lainnya yang selama ini terbatas karena skala masing-masing entitas.
Keberhasilan integrasi ini juga akan menjadi salah satu tolok ukur transformasi BUMN di bawah Danantara. Pemerintah menargetkan sistem pengelolaan aset negara yang lebih profesional, transparan, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang, bukan sekadar keuntungan jangka pendek.
Dengan terbentuknya satu perusahaan raksasa pengelola aset, Danantara optimistis dapat mendorong kontribusi BUMN terhadap perekonomian nasional secara lebih signifikan di masa mendatang.