ACEH — Le Faux Soir menjadi sorotan karena mengangkat kisah nyata perlawanan Belgia di era pendudukan Nazi. Roskam, sutradara yang dikenal lewat film Bullhead, kembali ke sinema Belgia setelah beberapa tahun mengerjakan proyek Hollywood.
Kisah Perlawanan di Balik Le Faux Soir
Film ini mengisahkan operasi gila sekelompok pejuang perlawanan Belgia pada 1943. Di tengah pendudukan Nazi, mereka menerbitkan edisi palsu Le Soir, surat kabar terbesar Belgia yang telah diambil alih Jerman sebagai mesin propaganda.
Roskam menyebut kisah itu membuatnya merenung soal cara orang Belgia memandang sejarah mereka sendiri.
"Ada sesuatu yang sangat Belgia dalam kombinasi keberanian, pengendalian diri, pasifisme, dan humor: kemampuan untuk melawan tanpa kehilangan rasa ironi atau kesadaran diri," ujar Roskam.
"Semangat itu menjadi inti dari orang-orang di balik Le Faux Soir, tetapi juga sangat terasa dalam sejarah Belgia, dan dalam beberapa hal, di Belgia hari ini. Itu memberi saya rasa bangga baru terhadap tempat asal saya," lanjutnya.
40 Tahun WBImages dan Panggung Toronto
Penayangan di Toronto terasa istimewa karena 2026 menandai 40 tahun Wallonie-Bruxelles Images (WBImages), agensi promosi internasional karya film dan audiovisual dari Fédération Wallonie-Bruxelles.
Direktur WBImages Hervé Le Phuez berbicara kepada Variety dari Venice, tempat agensi itu mempresentasikan film Diane in the Loop karya Ann Sirot dan Raphaël Balboni.
"Yang membuat kami sangat senang adalah melihat betapa baik dan luasnya film-film kami bepergian ke internasional, dan betapa banyak produser serta profesional film kami yang kini bekerja lintas batas," kata Le Phuez.
Ia menyebut jumlah co-production internasional yang melibatkan produser Wallonia-Brussels setiap tahun sebagai salah satu indikator terkuat kehadiran global sinema mereka.
Kolaborasi Lintas Wilayah dan Wajah Baru
Le Phuez menjelaskan bahwa WBImages dan Film and Audiovisual Center of the Wallonia-Brussels Federation sama-sama mendukung produksi audiovisual di level Communities di Belgia. Fokusnya bukan pada asal daerah pembuat film, melainkan pada kreator yang menyumbang apa yang ia sebut "sikap Belgia" dalam karakter, penceritaan, bahasa sinematografi, dan cara memandang dunia.
Kehadiran Wallonia di Toronto tahun ini dipimpin Le Faux Soir dan Coward, drama perang queer karya Lukas Dhont yang memenangi Cannes. Keduanya dibuat lewat kolaborasi Flanders dan Wallonia, dengan Le Faux Soir sebagai produksi mayoritas Wallonia dan Coward mayoritas Flemish.
Ronni Shalev, yang film pendeknya 2:Love juga tayang perdana dunia di Toronto, menambahkan perspektif dari sisi imigran. Ia mengaku terkesan dengan dukungan finansial bagi sineas pemula yang punya visi artistik kuat.
"Saya kagum dengan kebebasan yang diberikan kepada para auteur," kata Shalev. "Saya didorong untuk mengajukan proposal artistik yang kuat dan mewujudkannya, dengan penekanan besar pada materialitas dan orisinalitas."
Shalev menilai kebebasan kreatif itu terhubung dengan etos Wallonia yang do-it-yourself dan berpikir bisa dilakukan. Menurutnya, pendekatan itu melahirkan suara-suara unik dan idiosinkratik dalam sinema, baik di level naratif maupun visual.
Deretan film pendek lain turut memperkuat kehadiran Wallonia di Toronto, termasuk The Day I Smoked a Cigarette With karya Sameh Alaa dan Robin Vouters. Kombinasi keberanian bercerita dan dukungan lembaga membuat sinema Belgia, khususnya dari wilayah Wallonia, tetap diperhitungkan di peta festival dunia.