ACEH — Dokumenter Naza menjadi tambahan mendadak di kompetisi utama Festival Film Venesia. Yuval Abraham dan Rachel Szor, yang sebelumnya memenangkan Oscar lewat No Other Land, kembali dengan proyek yang mengangkat kesaksian dari dalam mesin militer Israel.
Film ini dibangun dari wawancara dengan 24 perwira intelijen dan tentara Israel. Mereka mengungkap penggunaan AI, pengawasan telepon, dan sistem poin sederhana untuk menentukan target di Gaza, lalu menyerangnya di rumah masing-masing tanpa mempertimbangkan kemungkinan jatuhnya korban anak dan anggota keluarga lain.
Asal Nama dan Metode Penargetan
Judul Naza diambil dari akronim Ibrani militer Israel untuk menggambarkan setiap individu yang berpotensi meninggal saat menghitung perkiraan korban tewas sebelum serangan.
Abraham menjelaskan bahwa unit dasar penargetan sistem Israel adalah rumah keluarga di Gaza. Setiap bangunan dan rumah memiliki nomor. Sistem dirancang untuk melacak target, terutama saat mereka berada di ruang sipil atau kembali ke rumah.
Ia menyebut temuan ini sebagai salah satu pengungkapan paling mengejutkan dalam film. Menurutnya, hal itu seharusnya sudah diketahui publik jika mereka mendengarkan warga Palestina di Gaza. Namun mendengarnya langsung dari dalam sistem militer memberinya kesan mendalam.
Latar Investigasi dan Produksi
Film ini berbasis liputan investigatif Abraham setelah serangan Hamas 7 Oktober 2023 dan peluncuran kampanye militer Israel pada 27 Oktober tahun yang sama. Temuan investigasinya pernah dipublikasikan The Guardian, yang juga menjadi produser film, serta media Israel +972 dan Local Call.
Abraham mengaku sudah menghabiskan waktu sebelum 7 Oktober bersama +972 dan Local Call, lalu The Guardian, untuk menginvestigasi militer Israel, sistem penargetan, ketergantungan pada AI, big data, dan pengawasan massal terhadap warga Palestina. Jaringan yang dibangun bertahun-tahun itulah yang mempertemukannya dengan para narasumber.
Szor, yang juga sinematografer film ini, menjaga profil media yang rendah selama promosi dan kampanye awards No Other Land. Ia bergabung dengan Abraham dalam wawancara untuk Naza di Venesia.
Soal kerja sama mereka, Szor mengatakan sebagai sutradara mereka membicarakan segalanya: apa yang dicari, pertanyaan yang perlu diajukan, struktur cerita, dan secara sinematik di mana wawancara akan direkam serta apa lagi yang ditampilkan di luar wawancara.
Kesaksian Anonim dan Upaya Perlindungan Sumber
Kesaksian anonim dalam film ini dibingkai sebagai wawancara di atap gedung dengan latar cakrawala malam Tel Aviv. Kota itu dikenal sebagai salah satu yang paling liberal di dunia, sekaligus jantung aparat militer Israel dan lokasi markas HaKirya HQ. Penampilan fisik dan suara narasumber diubah untuk menyembunyikan identitas mereka.
Abraham menyebut mereka melalui proses ketat bersama desk investigasi The Guardian yang ahli di bidang itu. Langkah-langkah luar biasa diambil untuk melindungi sumber. Tujuannya juga agar wawancara tidak terkesan robotik.
Ia menekankan hal itu penting karena mereka ingin kesaksiannya sampai dan berdampak.
Kesaksian yang Mendingin dan Referensi Eichmann
Kesaksian-kesaksian itu digambarkan mendinginkan. Beberapa narasumber menjelaskan mereka bagian dari sistem yang tak bisa mereka tantang. Hal ini memunculkan referensi tak terucap pada Adolf Eichmann, yang mengelola logistik Holocaust, dan liputan Hannah Arendt atas persidangannya di Yerusalem yang memunculkan frasa "banality of evil".
Abraham mengatakan hal itu muncul dari sebagian tentara sendiri. Ia mengaku terkejut. Ia memikirkan Perang Dunia II dan Holocaust, dan menurutnya kewajiban mereka adalah menarik pelajaran universal dari itu. Karena ketika mengatakan never again, bagaimana bisa mengatakannya tanpa menarik pelajaran universal, oposisi universal terhadap dehumanisasi, terhadap mengubah manusia menjadi angka.
Ia terkejut betapa sebagian tentara sendiri kadang merasakan hal itu, meski tidak semuanya.
Penayangan perdana Naza di Venesia menempatkannya di tengah kecaman yang meningkat atas kampanye militer Israel di wilayah Palestina. Film ini melanjutkan jejak No Other Land yang memenangkan Oscar 2025 untuk Best Documentary, disutradarai bersama sutradara Palestina Basel Adra dan Hamdan Ballal, yang mendokumentasikan upaya militer Israel menghapus desa-desa Palestina di Masafer Yatta, Tepi Barat.