ACEH — Serangan siber ke perangkat seluler memasuki fase kritis. Data Kaspersky Security Network mencatat 2,67 juta serangan malware, adware, dan software tidak diinginkan berhasil diblokir sepanjang Q1 2026, dengan ponsel sebagai target utama.
Dari 306.070 sampel paket instalasi berbahaya yang ditemukan, 439 di antaranya merupakan Trojan ransomware seluler. Varian backdoor pra-instal seperti Triada dan Keenadu juga masih menjadi ancaman, karena tertanam langsung di firmware saat proses manufaktur pabrik.
Modus Penipuan Kilat yang Menguras Rp 11,5 Juta Sekali Serang
Studi Kaspersky bertajuk The Great Messaging Heist menemukan satu pesan penipuan yang berhasil menyebabkan kerugian rata-rata USD 733 (sekitar Rp 11,5 juta) per korban. Prosesnya berlangsung sangat cepat—52% penipuan yang sukses menguras uang atau data terjadi dalam waktu kurang dari 30 menit sejak kontak pertama.
Head of Consumer Channel APAC Kaspersky, Choon Hong Chee, menjelaskan penjahat siber kini menyalahgunakan layanan daring yang sah serta teknik bertahap (multi-stage attack) untuk menghindari deteksi. Serangan biasanya diawali dari file atau aplikasi yang tampak aman sebelum mengeksekusi aktivitas berbahaya.
AI Jadi Senjata Baru Penipu: Deepfake hingga Tiruan Suara
Sebanyak 66% korban meyakini pelaku menggunakan teknologi kecerdasan buatan dalam aksinya. Bentuk yang paling umum adalah narasi pesan bertulisan AI (42%), peniruan suara AI (31%), serta rekayasa video/foto deepfake (25%).
Maraknya serangan ini berbarengan dengan pergeseran fokus peretas yang kini masif menyasar dana dan data keuangan pengguna. Sepanjang Q1 2026 saja, porsi Trojan perbankan mendominasi hingga 52,96% dari seluruh aplikasi seluler berbahaya—melonjak tajam dibandingkan porsi 31% pada tahun sebelumnya.
Cara Mengamankan Ponsel dari Ancaman Trojan Perbankan
Kaspersky mengimbau pengguna memperketat keamanan perangkat seluler dengan langkah-langkah berikut:
- Mengunduh aplikasi hanya dari toko resmi (official app store).
- Menghindari klik pada tautan atau penawaran promosi yang mencurigakan.
- Rutin memperbarui sistem operasi (OS) dan aplikasi ke versi terbaru.
- Memverifikasi ulang setiap permintaan informasi pribadi yang diterima via aplikasi pesan.
- Memasang solusi keamanan atau antivirus khusus seluler secara aktif.
Dengan masifnya peretasan seluler di Asia Tenggara dan global, perlindungan perangkat pintar kini sudah menjadi kebutuhan pokok, bukan sekadar fitur tambahan opsional. Pengguna di Indonesia yang aktif bertransaksi mobile banking perlu ekstra waspada terhadap modus penipuan berbasis AI yang kian sulit dibedakan dari komunikasi asli.