BANDA ACEH — Agustus menjadi bulan dengan bencana terbanyak di Aceh sepanjang tahun ini, yakni 50 kejadian. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan bulan tertinggi kedua, Maret, yang mencatatkan 28 kejadian, berdasarkan data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BPBA yang dihimpun dari laporan kabupaten/kota.
Dari total 198 kejadian, kebakaran pemukiman mendominasi dengan 74 kasus, disusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebanyak 66 kejadian. Sisanya meliputi 24 angin puting beliung, 22 banjir, enam banjir bandang, tiga tanah longsor, dua abrasi, dan satu gempa bumi.
Karhutla Hanguskan 478 Hektare Lahan
Luas lahan yang terbakar akibat karhutla sepanjang periode Januari–Agustus 2026 mencapai sekitar 478 hektare. Angka ini menunjukkan kerentanan kawasan di Aceh terhadap kebakaran, baik yang dipicu faktor alam maupun aktivitas manusia.
Kepala Pelaksana BPBA, Ir. Bahron Bakti, ST, MT, menegaskan dominasi kebakaran dan karhutla menjadi sinyal perlunya penguatan pencegahan. “Edukasi kepada masyarakat, pengawasan lingkungan serta kecepatan dalam merespons laporan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Banda Aceh.
Satu Warga Meninggal, 1.008 Orang Mengungsi
Rangkaian bencana itu menimbulkan korban jiwa. BPBA mencatat satu orang meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 1.008 orang terpaksa mengungsi akibat rumahnya rusak atau terdampak bencana.
Kerusakan bangunan tercatat cukup parah. Sebanyak 369 rumah mengalami rusak berat, 110 rumah rusak sedang, dan 164 rumah rusak ringan. Selain itu, 422 rumah lainnya terdampak genangan atau terendam air.
Kerugian Rp155 Miliar Jadi Dasar Evaluasi Kebijakan
Dampak ekonomi dari seluruh kejadian bencana tersebut diperkirakan mencapai Rp155 miliar. Nilai ini mencakup kerusakan tempat tinggal, aset warga, hingga terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di daerah terdampak.
Bahron menekankan akurasi data kebencanaan menjadi kunci utama dalam penanganan. “Data kebencanaan menjadi dasar penting dalam menentukan langkah pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana. Karena itu, akurasi dan kecepatan pelaporan dari kabupaten/kota sangat penting agar setiap kejadian dapat segera ditindaklanjuti secara tepat,” katanya.
BPBA berkomitmen memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota serta instansi terkait untuk meningkatkan kapasitas penanganan bencana. Bahron juga mengajak masyarakat aktif melaporkan potensi bencana di lingkungan masing-masing.
“Masyarakat merupakan bagian penting dalam penanggulangan bencana. Mari bersama-sama meningkatkan kesiapsiagaan, menjaga lingkungan, dan segera melaporkan setiap potensi maupun kejadian bencana kepada pihak terkait,” tambahnya.