BANDA ACEH — Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 mengusung misi lebih besar dari sekadar pameran makanan. Festival Director ACF, Wan Windi Lestari, menyebut gelaran ini dirancang sebagai pusat studi gastronomi dan ekosistem kreatif yang melibatkan puluhan komunitas dari Aceh, Jakarta, hingga Bali. Meski masuk agenda nasional, penyelenggara menegaskan tidak memperoleh alokasi dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2026.
11 Anjungan Siap Menghadirkan Warisan Rasa dari Berbagai Suku
Alih-alih hanya menyajikan jajanan, ACF 2026 mengaktifkan 11 paviliun yang mewakili Aceh Besar, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Barat, Kota Sabang, Aceh Jaya, Nagan Raya, Simeulue, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur. Setiap paviliun tidak hanya memamerkan makanan khas dan bahan pangan lokal, tetapi juga menghadirkan atraksi penutur cerita warisan rasa.
Pengunjung diajak mengenal keberagaman budaya suku-suku asli Aceh melalui hidangan yang disajikan. Jadwal atraksi tersebut dapat dipantau melalui akun Instagram resmi @acehculinaryfestival.
Zona Galarasa Nusantara dan Bandar Rasa: Dari Rempah Lokal hingga Global Comfort Food
Area pameran dibagi menjadi tiga bagian utama. Zona Galarasa Nusantara akan menyuguhkan variasi rasa dari berbagai penjuru Tanah Air, sementara Zona Bandar Rasa menghadirkan inovasi rasa serta beragam global comfort food. Secara keseluruhan, lebih dari 500 variasi rasa dapat ditemukan dalam festival ini.
20 Sesi Interaktif: Kelas Bumbu, Bedah Buku, Hingga Musik dari Buah
ACF 2026 menyiapkan sedikitnya 20 sesi aktivitas interaktif. Pengunjung bisa belajar menjadi content creator melalui TikTok GO by Tokopedia, mencicipi Sanger gratis dalam Sanger Day, hingga mengikuti kelas memasak hidangan warisan dan workshop meracik bumbu masakan Aceh.
Sejumlah kelas menarik lainnya termasuk dekonstruksi rasa asam sunti menjadi candy roll serta mengolah ikan kayu menjadi kaldu bubuk ikan. Kegiatan kreatif seperti membuat karya seni berbahan daur ulang bersama Sahabat Hijau hingga Sunday Morning Run juga tersedia bagi pengunjung.
Forum Gastronomi: Mengulik Sejarah Kuliner dari Masa Kesultanan
Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah Forum Gastronomi Semeja Makan. Forum ini mempertemukan antropolog, sejarawan, penulis budaya, chef, hingga peneliti resep warisan untuk merumuskan perjalanan gastronomi Aceh, mulai dari periode tradisi maritim, bandar perdagangan, hingga ekspansi Kesultanan Aceh. “Sesi ini terbatas untuk Anda yang diundang sebagai panelis dan pengamat,” kata Wan Windi.
Panggung Utama Hadirkan Bottlesmoker dan Teza Sumendra
Dari panggung utama, duo Bottlesmoker akan menampilkan Experimental Music with Nature Project, sebuah pertunjukan pembuatan musik menggunakan buah-buahan. Penikmat musik R&B soulful akan disapa Teza Sumendra. Tiga musisi muda Aceh, yakni Fahmil Arabi, Aidil Farabi, dan Jal Brahim, juga akan turut meramaikan festival.
Pembukaan Khanduri Raya dan Kupon Jajan Rp15.000
Festival akan dibuka pada 11 September 2026 pukul 16.30 WIB dengan Khanduri Raya 8 Belanga, menyajikan 8 kuah khas dari 8 suku asli di Aceh. Sebanyak 100 pengunjung pertama yang memasuki area Galarasa Nusantara berkesempatan mencicipi hidangan tersebut secara gratis.
Untuk meningkatkan kenyamanan, area Galarasa Nusantara yang terhubung langsung dengan area pertunjukan utama, Galaria Selera, akan memberlakukan kupon jajan senilai Rp15.000 per orang sebagai syarat masuk.