ACEH — Studi yang dipublikasikan pada Rabu (10/6) mengungkap bahwa bencana hidrometeorologi tersebut menimbulkan dampak jauh lebih besar dari perkiraan awal. Sebelumnya, pada Desember lalu, Profesor Erik Meijaard, salah satu penulis studi, memperkirakan jumlah kematian orangutan sekitar 35 ekor. Namun, analisis komprehensif menunjukkan angka sebenarnya hampir dua kali lipat, yakni 58 individu.
Kerangka Orangutan Ditemukan Setengah Terkubur Lumpur
Beberapa pekan pascabencana, tim kemanusiaan menemukan bangkai yang diyakini sebagai orangutan Tapanuli di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah. Deckey Chandra, anggota tim di lokasi, menyaksikan sendiri pemandangan yang tak biasa. "Saya sudah melihat beberapa jenazah manusia dalam beberapa hari terakhir, tapi ini pertama kalinya melihat satwa liar mati," ujarnya.
Chandra menambahkan bahwa kawasan itu biasanya menjadi tempat orangutan mencari buah. "Tapi sekarang sepertinya tempat ini menjadi kuburan mereka," katanya.
Profesor Meijaard, yang melihat foto bangkai tersebut, mendeskripsikan kondisi yang mengerikan. "Seluruh daging di wajahnya telah terkoyak. Jika beberapa hektar hutan runtuh dalam longsor besar, bahkan orangutan yang kuat sekalipun tak berdaya dan hancur. Ibarat neraka di dalam hutan saat itu," jelas direktur pelaksana Borneo Futures itu.
Ancaman Kepunahan: Kehilangan 1% Populasi Per Tahun Saja Sudah Fatal
Para peneliti menekankan bahwa spesies yang baru diidentifikasi pada 2017 ini akan punah jika kehilangan lebih dari 1% populasinya setiap tahun. Profesor Sergei Vich, primatolog dari Liverpool John Moore University, mengatakan kematian 58 individu dari 580 orangutan di wilayah terdampak setara 10-11% populasi lokal. "Angka kematian itu jauh melampaui kemampuan bertahan mereka. Jadi ini adalah peristiwa besar," tegasnya.
Siklon Senyar yang melanda Sumatra pada akhir November 2025 merupakan gabungan faktor cuaca ekstrem dan deforestasi. Bencana itu juga menewaskan lebih dari 1.000 orang, menjadikannya bencana alam paling mematikan di Asia Tenggara sepanjang tahun lalu.
Moratorium Proyek dan Seruan Dukungan Global
Pasca-bencana, Pemerintah Indonesia menghentikan sementara proyek-proyek besar di kawasan hutan lindung Batang Toru, termasuk pertambangan, perkebunan kelapa sawit, dan ekspansi pembangkit listrik tenaga air. Langkah ini memberi celah bagi peneliti untuk mengkaji risiko ekologis yang lebih luas.
Para penulis laporan menegaskan bahwa kehancuran akibat siklon membuktikan betapa rentannya spesies ini. "Krisis yang dihadapi orangutan Tapanuli menggambarkan pertemuan antara ketidakstabilan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kerentanan," tulis mereka. Untuk menyelamatkan populasi yang tersisa, studi tersebut menekankan perlunya dukungan internasional berkelanjutan, perlindungan domestik yang diperkuat, serta perencanaan yang responsif terhadap iklim.