BANDA ACEH — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh menggencarkan program literasi dan inklusi keuangan dengan menyasar enam segmen prioritas. Kepala OJK Aceh Daddi Peryoga menyatakan bahwa total peserta edukasi yang telah dijangkau mencapai 2.528 orang.
"Kami berharap mereka bisa menjadi agen literasi dan inklusi keuangan di Provinsi Aceh," kata Daddi Peryoga di Banda Aceh, Kamis.
Enam Segmen Prioritas Jadi Sasaran Edukasi
Edukasi keuangan ini tidak hanya menyasar kelompok umum. OJK Aceh secara khusus membidik enam segmen prioritas yang dinilai membutuhkan pemahaman lebih tentang pengelolaan keuangan.
Segmen tersebut meliputi kelompok perempuan, pelajar, mahasiswa, penyandang disabilitas, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta masyarakat umum lainnya. Para peserta berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Aceh.
Literasi vs Inklusi Keuangan: Apa Bedanya?
Daddi Peryoga menjelaskan, literasi keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan masyarakat dalam mengelola keuangan. Sementara itu, inklusi keuangan merujuk pada ketersediaan akses terhadap berbagai lembaga, produk, dan layanan jasa keuangan.
"OJK terus mengakselerasi atau mempercepat peluasan akses literasi dan inklusi keuangan kepada semua kalangan masyarakat, sehingga masyarakat memahami semua produk keuangan," ujarnya.
TPAKD Jadi Motor Percepatan Akses Keuangan Daerah
Percepatan literasi dan inklusi keuangan ini melibatkan dukungan berbagai pihak. Pemerintah daerah berperan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), yang di dalamnya juga terdiri dari pelaku jasa keuangan dan pemangku kepentingan seperti akademisi.
Optimalisasi program TPAKD menjadi kunci. Beberapa program yang dijalankan antara lain satu rekening satu pelajar, pembiayaan ultramikro, Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga program saham muda.