BANDA ACEH — Program siraman rohani bertajuk “Keluarga yang Kokoh dalam Membangun Rumah Tangga yang Tangguh” ini digelar untuk merespons tantangan keluarga di era digital. Sekretaris Daerah Kota Banda Aceh, Ir. Jalaluddin, ST, MT, dalam sambutannya menyebut arus informasi digital dan perubahan pola sosial membuat persoalan rumah tangga semakin kompleks.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam membangun karakter masyarakat. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, ulama, dai, akademisi, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Jalaluddin.
Syeikh Reza: Kerendahan Hati Kunci Pemimpin dan Kepala Keluarga
Syeikh Reza Abdul Jabbar yang merupakan putra asli Aceh dan telah hijrah ke Selandia Baru sejak 1993 menekankan pentingnya sikap rendah hati. Ia kini dikenal sebagai pengusaha peternakan sekaligus imam besar komunitas Muslim Islam Kaffah di Selandia Baru.
“Baik dalam berumah tangga maupun dalam jabatan. Setinggi apa pun posisi atau kedudukan, setiap langkah dalam berumah tangga adalah ujian,” kata Syeikh Reza.
Meski telah lama tinggal di luar negeri, ia menyebut nilai-nilai keluarga Aceh tetap menjadi pegangan. “Di mana pun kita merantau, rumah tangga adalah madrasah pertama. Kalau di rumah gagal, di luar juga tidak akan berkah,” tambahnya.
Ustazah Peggy: Rumah Tangga Itu Tim, Bukan Ajang Menang Sendiri
Ustazah Peggy Melati Sukma, yang juga istri Syeikh Reza, menyampaikan kunci menjaga ketahanan rumah tangga adalah prinsip tim. “Dalam rumah tangga, tidak ada yang berjuang sendirian. Kalau ada masalah, duduk bareng. Kalau ada lelah, bagi bareng. Itu yang bikin batin tenang meski ujian datang,” kata Ustazah Peggy.
Ia juga menjelaskan batasan syariat dalam rumah tangga. Jika terjadi pelanggaran seperti kekerasan fisik atau merendahkan harga diri pasangan, Islam mengatur solusi talak atau khulu’ sebagai jalan terakhir.
“Tapi sebelum ke sana, upayakan dulu musyawarah, hadirkan penengah dari keluarga, dan kembalikan semuanya pada Al-Qur’an. Jangan buru-buru menyerah saat rumah tangga diuji,” jelasnya.
Menurutnya, konsep utama rumah tangga adalah “saling ngerti”. Rumah tangga bukan soal siapa yang menang, melainkan siapa yang mau memahami luka batin pasangannya.
Kolaborasi Ulama dan Pemko untuk Keluarga Sakinah
Kepala Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh, Alimsyah, menilai materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. “Syariat bukan hanya soal hukum, tapi juga soal akhlak dalam rumah tangga. Ini sejalan dengan visi Pemko untuk membangun keluarga sakinah sebagai pondasi kota yang madani,” ujar Alimsyah.
Atas nama Pemko Banda Aceh, panitia menyampaikan terima kasih kepada Syeikh Reza dan Ustazah Peggy yang dijadwalkan kembali mengisi dakwah malam harinya di Taman Bustanussalatin. Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab yang membuka kesempatan satu hingga empat pertanyaan dari peserta. Program “Kupi Beungoh” diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan dalam membangun masyarakat yang lebih baik.