ACEH — Laporan keuangan enam bulan pertama tahun ini masih memperlihatkan tekanan berat yang dialami emiten konstruksi pelat merah. Kenaikan pendapatan yang signifikan ternyata belum cukup untuk menutup biaya bunga pinjaman yang membengkak serta kerugian dari proyek patungan.
Waskita Karya sebenarnya berhasil menaikkan pendapatan menjadi Rp 4,92 triliun pada semester I-2026, melonjak dari Rp 3,10 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, lonjakan top line ini tergerus habis oleh beban keuangan yang mencapai sekitar Rp 1,90 triliun.
Selain biaya bunga yang tinggi, Waskita juga masih menanggung rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama senilai Rp 168,1 miliar. Kombinasi dua faktor inilah yang membuat perusahaan belum mampu keluar dari zona merah meski ada perbaikan tipis dibandingkan rugi tahun lalu.
Nasib serupa dialami PT PP Tbk. Pada paruh pertama 2026, perusahaan konstruksi berplat merah ini mencatat rugi bersih sekitar Rp 193,6 miliar. Aktivitas bisnis memang masih berjalan, tetapi hasilnya belum mampu menghasilkan laba karena beban keuangan dan pajak yang masih memberatkan.
Yang lebih mengkhawatirkan, posisi kas dan setara kas PTPP terkoreksi tajam menjadi Rp 1,17 triliun dari sebelumnya Rp 2,89 triliun pada akhir 2025. Dalam periode yang sama, total liabilitas perusahaan justru meningkat menjadi Rp 38,99 triliun, menunjukkan tekanan likuiditas yang semakin ketat di tengah tumpukan utang.
Baik Waskita maupun PP sama-sama mencatatkan kerugian dari entitas asosiasi dan ventura bersama. Hal ini mengindikasikan bahwa proyek-proyek kerja sama yang digarap kedua BUMN Karya tersebut belum memberikan kontribusi laba yang diharapkan.
Padahal, skema ventura bersama selama ini diandalkan untuk memperluas portofolio proyek tanpa harus menanggung beban pendanaan penuh. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa skema tersebut justru menjadi salah satu sumber kebocoran kinerja keuangan.
Dengan tren beban bunga yang masih tinggi dan kontribusi investasi yang minim, perjalanan BUMN Karya untuk keluar dari jerat kerugian masih panjang. Perbaikan pendapatan saja tidak cukup selama struktur biaya pendanaan dan portofolio investasi belum dibenahi secara fundamental.