ACEH — Riset Omdia mencatat pasar Asia Tenggara mulai kehilangan momentum karena kenaikan harga perangkat yang tidak diimbangi daya beli. Meski volume pengiriman turun drastis, nilai pasar justru bertahan di angka US$6,6 miliar lantaran harga jual rata-rata (ASP) yang naik signifikan.
Biaya Memori Jadi Penyebab Utama
Tekanan harga komponen memori menjadi biang keladi utama. Le Xuan Chiew, Research Manager Omdia, menjelaskan bahwa perangkat yang dikirim pada semester pertama 2026 masih memakai biaya memori rata-rata dari pembelian sebelumnya, bukan harga pasar saat ini.
"Ini berarti margin saat ini belum mencerminkan kenaikan biaya memori. Seiring menipisnya persediaan dengan biaya lebih rendah, vendor akan menghadapi dampak penuh dari harga memori yang lebih tinggi," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (27/8).
Proyeksi Omdia memperkirakan pengiriman smartphone di kawasan ini bakal menyusut hingga 25% year-on-year menjadi 75,3 juta unit sepanjang 2026. Fenomena ini diprediksi berlanjut dari paruh pertama ke paruh kedua karena harga ponsel yang terus meningkat membebani volume penjualan.
Indonesia dan Filipina Paling Tertekan
Dampak paling besar dirasakan Indonesia dan Filipina. Kedua negara ini sangat bergantung pada penjualan ponsel murah di toko ritel umum, sehingga kenaikan harga membuat calon pembeli menunda upgrade perangkat.
Senior Analyst Omdia, Sheng Win Chow, mencatat bahwa secara keseluruhan pengiriman di segmen harga di atas US$100 masih turun 2%. Artinya, kelas harga yang lebih mahal tidak mampu menyerap seluruh pembeli yang sebelumnya memburu ponsel di bawah US$100.
"Banyak calon pembeli akhirnya memilih untuk tidak jadi beli daripada harus pindah ke HP yang lebih mahal," kata Sheng Win Chow.
Segmen Entry-Level Paling Terpukul
Pergeseran pola terlihat jelas di kelompok harga US$100–199 yang kini menyerap 39% total pengiriman, naik dari 32% pada periode sebelumnya. Banyak vendor sengaja menaikkan harga seri yang dulunya dijual di bawah US$100, salah satunya lewat peluncuran Samsung Galaxy A07 dan A17 serta Xiaomi Redmi Note 15.
Secara historis, volume penjualan di bawah US$100 di Asia Tenggara disokong diskon besar-besaran untuk model lama. Namun saat ini, vendor tidak hanya memperkenalkan model baru dengan harga lebih tinggi, tetapi juga menaikkan harga perangkat yang sudah beredar.
Siapa yang Bertahan di Tengah Penurunan
Samsung justru mencatat kenaikan pangsa pasar menjadi 32% pada kuartal II 2026, didorong penjualan di segmen harga US$200–299. Sementara itu, Xiaomi mengalami kenaikan ASP hingga 43,5% meski volume pengiriman unitnya turun 21%.
Strategi Xiaomi terlihat jelas: pengiriman ponsel di bawah US$100 ambles 69%, sedangkan di kelas US$100–199 naik 55%. Transsion, induk Tecno, Infinix, dan Itel, juga mengalami pola serupa dengan pengiriman entry-level turun 47% dan kelas US$100–199 naik 12%.
Kapan Pasar Pulih?
Omdia memperkirakan tekanan harga masih akan berlanjut selama persediaan komponen lama belum habis. Dengan biaya memori yang lebih tinggi mulai terasa penuh di semester kedua, wajar jika angka pengiriman tahun ini menjadi yang terburuk dalam lebih dari satu dekade.
Untuk Indonesia sendiri, ini menjadi sinyal bahwa era ponsel super murah di bawah Rp 1,7 juta semakin menipis. Pelaku industri ritel dan operator seluler perlu menyesuaikan strategi insentif agar permintaan kelas bawah tidak terus tergerus.