ACEH — JAKARTA — Pasokan gas bumi cair (LNG) dari Kilang Tangguh di Papua Barat berangsur pulih. Hal ini menyusul rampungnya pekerjaan pemeliharaan terjadwal atau turnaround (TA) di fasilitas pengolahan Train 1 yang berlangsung hingga Juni 2026.
Informasi yang dihimpun Dunia Energi menyebutkan, kapasitas produksi Train 1 saat ini baru mencapai 1.000 m³/jam. Angka ini masih di bawah kapasitas normal yang seharusnya bisa dihasilkan sebelum proses perawatan dilakukan.
Proses Pemulihan Bertahap
Pemulihan produksi tidak bisa dilakukan seketika. Operator memilih melakukan penyesuaian bertahap untuk memastikan seluruh sistem berjalan stabil pasca-perawatan besar.
Dengan capaian saat ini, target produksi normal dijadwalkan tercapai pada Oktober 2026. Artinya, masih ada waktu sekitar empat bulan bagi operator untuk mengoptimalkan kembali seluruh peralatan Train 1.
Perawatan berkala seperti ini memang rutin dilakukan di kilang LNG. Tujuannya untuk menjaga keandalan fasilitas dan mencegah gangguan produksi yang lebih besar di kemudian hari.
Dampak ke Pasokan LNG
Kegiatan TA ini tentu berdampak pada volume produksi LNG secara keseluruhan selama periode perawatan. Namun, pemulihan yang mulai berjalan ini menjadi sinyal positif bagi pembeli jangka panjang yang mengandalkan pasokan dari Tangguh.
Kilang Tangguh sendiri merupakan salah satu sumber utama ekspor LNG Indonesia. Selain memenuhi kontrak domestik, hasil produksinya juga dikirim ke sejumlah pembeli di kawasan Asia.
Dengan target normalisasi produksi pada Oktober 2026, operator optimistis komitmen pasokan kepada pembeli bisa segera kembali dipenuhi sesuai kontrak.
Pemulihan kapasitas Train 1 menjadi kunci menjaga posisi Indonesia di pasar LNG global di tengah persaingan yang semakin ketat dari produsen baru seperti Amerika Serikat dan Qatar.