Pencarian

Pemerintah Siapkan Bursa Komoditas Icomex, Harga CPO dan Nikel Tak Lagi Ditentukan Asing?

Senin, 17 Agustus 2026 • 11:20:32 WIB
Pemerintah Siapkan Bursa Komoditas Icomex, Harga CPO dan Nikel Tak Lagi Ditentukan Asing?
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan skema Indonesia Commodity Exchange (Icomex) tengah disiapkan untuk komoditas unggulan seperti CPO, nikel, dan batu bara.

ACEH — Wacana pembentukan bursa komoditas nasional kembali mengemuka di tengah upaya pemerintah memperkuat posisi tawar di pasar global. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengonfirmasi bahwa skema bernama Indonesia Commodity Exchange (Icomex) tengah disiapkan, dengan fokus utama pada komoditas-komoditas unggulan produksi dalam negeri seperti minyak sawit mentah (CPO), nikel, dan batu bara.

“Belum, belum diputuskan. Yang pasti adalah komoditas-komoditas yang memang itu produksi kita yang paling utama. Misalnya CPO, nikel, batu bara,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/8).

Mengapa Indonesia Butuh Bursa Sendiri?

Gagasan ini lahir dari keinginan pemerintah untuk keluar dari posisi sebagai penerima harga. Selama ini, harga komoditas strategis Indonesia lebih banyak ditentukan oleh mekanisme pasar di luar negeri, seperti bursa Rotterdam untuk CPO atau London Metal Exchange untuk nikel.

“Intinya adalah kedaulatan terhadap barang-barang yang kita miliki harus kita yang menentukan. Selama ini kan enggak,” tegas Prasetyo.

Dengan adanya Icomex, pemerintah berharap mekanisme pembentukan harga bisa lebih mencerminkan kondisi fundamental industri dalam negeri, bukan semata-mata mengikuti sentimen pasar global. Meski begitu, Prasetyo memastikan bahwa acuan biaya produksi dan harga dunia tetap akan diperhitungkan dalam skema yang dirancang. “Pasti,” jawabnya singkat saat ditanya apakah mekanisme rinci akan diumumkan kemudian.

Nasib Bursa Komoditas yang Sudah Ada

Pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana posisi Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), bursa berjangka yang selama ini sudah beroperasi di dalam negeri. Prasetyo mengisyaratkan bahwa berbagai opsi masih terbuka, termasuk kemungkinan menggabungkan ICDX ke dalam Icomex atau membiarkan keduanya berjalan secara terpisah.

“Bisa jadi kan mungkin bisa gabung, mungkin bisa sendiri,” ujarnya.

Keputusan ini dinilai krusial karena akan menentukan efektivitas bursa baru tersebut. Jika digabung, likuiditas dan infrastruktur ICDX yang sudah mapan bisa menjadi fondasi awal yang kuat. Namun jika berdiri sendiri, Icomex harus membangun ekosistem dari nol, termasuk menarik partisipasi pelaku industri dan investor.

Apa Dampaknya bagi Industri dan Pasar?

Kehadiran Icomex berpotensi menjadi pengungkit baru bagi sektor pertambangan dan perkebunan. Bagi perusahaan seperti PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di sektor nikel atau para eksportir CPO, keberadaan bursa lokal bisa memangkas ketergantungan pada indeks harga asing dan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.

Namun, tantangan terbesar bukan sekadar membangun platform. Indonesia harus mampu menciptakan likuiditas yang cukup agar harga yang terbentuk di Icomex kredibel dan diakui pasar global. Tanpa itu, bursa baru hanya akan menjadi simbol formal tanpa pengaruh nyata terhadap pergerakan harga dunia.

Pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk merancang detail regulasi, tata kelola, dan mekanisme transaksi. Keputusan final mengenai daftar komoditas dan struktur kelembagaan Icomex pun belum diumumkan.

Yang jelas, langkah ini menegaskan arah kebijakan pemerintah yang semakin protektif terhadap sumber daya alam strategis. Setelah sukses dengan kebijakan hilirisasi nikel, kini giliran mekanisme perdagangan yang coba dikendalikan dari dalam negeri.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks