BANDA ACEH — Keputusan Kang Yanyan untuk hijrah ke Aceh pada 1998 bukan sekadar pindah domisili. Pria kelahiran Pajajaran, Bandung, 15 Desember 1973, itu menikahi Nurhayati Wanda, warga asli Banda Aceh, dan dikaruniai tujuh putra-putri. Selama 28 tahun, ia tak pernah meninggalkan gelanggang Tarung Derajat.
Dari Juara Nasional ke Pelatih di Tanah Rencong
Sebelum menetap di Aceh, Kang Yanyan telah menorehkan prestasi sebagai atlet. Gelar juara I di kejuaraan AA Boxer Cup V tahun 1996 menjadi modalnya untuk membangun karier kepelatihan. Kini, ia menjadi guru bagi rekan-rekan atlet Tarung Derajat Aceh.
"Pada intinya saya ingin mengabdikan diri untuk Aceh," ujar Kang Yanyan saat memberi motivasi bagi atlet peserta Pra PORA tahun 2026 di gedung Stadion Harapan Bangsa (SHB) Banda Aceh, Kamis (18/6).
Hasil Nyata: Prestasi Nasional dan ASEAN dari Anak Didik
Kang Yanyan tidak hanya mewariskan teknik bertarung. Anak didiknya, seperti Kandar Hasan dan Suhermansyah, telah membuktikan kemampuan dengan mewakili Indonesia di ajang ASEAN yang berlangsung di Bali tahun 2015. Menurutnya, Aceh sangat potensial dalam mencari dan membina bibit pemula.
"Kita ingin menunjukkan pada daerah lainnya terutama di tanah air bahwa ada atlet dari Tanah Rencong Aceh mampu berbicara di tingkat nasional," ungkapnya.
Prinsip Hidup di Balik Setiap Pukulan
Dalam setiap sesi latihan, Kang Yanyan menanamkan prinsip yang lebih dari sekadar fisik. Ia menekankan perlunya kesadaran diri, rendah hati, kesantunan, dan tidak sombong. Prinsip ini, katanya, mendidik jiwa dan mental sekaligus menjunjung tinggi sportivitas.
"Teruslah berlatih, karena tidak akan ada prestasi tanpa latihan serius, punya kemauan, disiplin dan akhlaq yang baik, Insya Allah kamu pasti bisa," pesannya kepada atlet Tarung Derajat Aceh.
Penghargaan dari Pemerintah untuk Dedikasi Tanpa Henti
Pengabdian Kang Yanyan tidak bertepuk sebelah tangan. Pemerintah daerah memberikan penghargaan berupa pembangunan gedung olahraga (box) di komplek Stadion Harapan Bangsa (SHB) Banda Aceh. Fasilitas ini menjadi pusat latihan bagi junior-junior Tarung Derajat Aceh yang ingin mengikuti jejak sang guru.