TAKENGON — Keputusan relokasi ini diambil berdasarkan pendataan terbaru Dinas Pendidikan setempat bersama tim gabungan. Salah satu sekolah yang menjadi perhatian adalah SDN 10 Linge yang sempat viral di media sosial karena kondisinya yang memprihatinkan.
“Kami mengarahkan agar sisa siswa yang berada di tenda darurat segera dialihkan untuk menumpang di kelas kosong milik SMPN 26 Takengon. Langkah ini penting agar anak-anak tidak perlu lagi belajar di bawah terik tenda,” ujar Jamjam Muzaki dari Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB), Sabtu (6/6/2026).
Mengapa SMPN 26 Takengon Dipilih Jadi Lokasi Transit?
Pemindahan sisa siswa SDN 10 Linge ke SMPN 26 Takengon dinilai paling memungkinkan secara teknis. Selain lokasi kedua sekolah yang berdampingan, SMPN 26 Takengon saat ini hanya memiliki 46 siswa sehingga terdapat beberapa ruang kelas kosong yang representatif dan aman untuk langsung difungsikan.
Peninjauan lokasi dilakukan oleh Muhammad Kasman dari Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Muhammad Safran dari Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh, serta Nikmah dari Dinas Pendidikan Aceh Tengah bersama tim lainnya.
Lahan Relokasi Permanen 1,5 Hektare dan Jadwal ke Jakarta
Untuk jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah bersama tim gabungan telah menyepakati penyediaan lahan relokasi permanen seluas 1,5 hektare. Lahan ini akan menjadi kompleks baru bagi SDN 10 Linge dan SMPN 26 Takengon, berjarak sekitar 500 meter dari bangunan lama.
Bupati Aceh Tengah dijadwalkan bertolak ke Jakarta pada Senin pekan depan untuk menghadap Menteri Dalam Negeri. Pertemuan tersebut mengonfirmasi agenda penyerahan surat kepada Satgas Penataan Ruang dan Rumah Tangga (PRR) Kemendagri terkait akselerasi pembebasan lahan fasilitas publik dan pemukiman baru bagi warga terdampak.
Tiga Sekolah Masuk Anggaran Revit TNI, Sisanya Dialihkan ke Relokasi Penuh
Dari total 17 sekolah yang masuk daftar relokasi, tiga di antaranya telah terakomodasi dalam anggaran Rehabilitasi Vital (Revit) Tahap 1 TNI. Sementara sekolah lainnya yang semula direncanakan melalui skema swakelola atau perbaikan di tempat, kini dialihkan menjadi proyek relokasi penuh demi keselamatan jangka panjang peserta didik.
Ruang Kelas Darurat dari MDMC Ditargetkan Siap Tahun Ajaran Baru
Sembari menunggu proses birokrasi dan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) rampung, Kemendikdasmen menghadirkan solusi transisi dengan menggandeng Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Pembangunan Ruang Kelas Darurat (RKD) dijadwalkan mulai dibangun besok, Sabtu (6/6/2026).
MDMC akan mendirikan tiga lokal RKD untuk SDN 10 Linge dan dua lokal RKD untuk SMPN 26 Takengon. Lokasi kelas darurat sengaja ditempatkan persis di samping area Hunian Sementara (Huntara) warga agar memudahkan aksesibilitas siswa. Targetnya, pada tahun ajaran baru mendatang para siswa sudah bisa meninggalkan gedung tumpangan dan menempati RKD tersebut.
Dana Darurat Rp25 Juta Sudah Cair untuk Mebeler dan Perangkat TIK
Tim Kemendikdasmen menginstruksikan pihak sekolah untuk segera mengoptimalkan penyerapan dana bantuan operasional darurat yang telah dicairkan ke rekening mereka. Baik SDN 10 Linge maupun SMPN 26 Takengon telah mengantongi Bantuan Operasional Pembelajaran Darurat masing-masing Rp25 juta dari Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) untuk pengadaan mebeler sementara dan perangkat TIK kantor.
Khusus untuk SDN 10 Linge, Direktorat Sekolah Dasar juga mengucurkan dana tambahan berupa Voucher Bantuan Operasional Bencana. Langkah ini diambil untuk memastikan proses belajar-mengajar tetap berjalan layak selama masa transisi menuju relokasi permanen.