ACEH — Sejak pagi, peserta dari berbagai latar belakang—mulai dari ibu rumah tangga hingga penyandang disabilitas—mulai mencantingkan malam ke kain mori. Mereka dipandu langsung oleh instruktur profesional yang mengajarkan teknik dasar membatik: pembuatan pola, proses mencanting, hingga pewarnaan kain.
Kegiatan ini bukan sekadar kursus singkat. Di baliknya, ada skema pemberdayaan yang dirancang untuk berkelanjutan. Senior Manager Keuangan, Komunikasi dan Umum PLN UID Banten, bersama jajaran pejabat Pemkot Cilegon turun langsung memantau jalannya pelatihan.
Mengapa Pelatihan Ini Berbeda
Sekretaris Daerah Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, mengapresiasi kolaborasi ini. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan visi pemerintah daerah menciptakan masyarakat yang kreatif, mandiri, dan berdaya saing.
“Kami berharap kegiatan ini dapat membuka lebih banyak peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Aziz.
PLH General Manager PLN UID Banten, Bobby Cristya Surya, menegaskan bahwa komitmen PLN tidak berhenti pada layanan kelistrikan. Melalui program PLN Peduli, perseroan ingin membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi.
“Kami ingin program ini tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga mampu mendorong lahirnya usaha-usaha baru yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Bobby.
Empat Bidang yang Akan Dikembangkan
Direktur Banten Inclusifa Preneur, Rina Rahmawati, menjelaskan bahwa BIP dibangun sebagai ruang belajar kreatif yang bisa diakses semua kalangan. Ke depan, program pelatihan akan diperluas ke empat bidang utama: kriya, membatik, menjahit, dan melukis.
“Kami percaya setiap orang memiliki potensi untuk tumbuh dan berkarya. Pelatihan ini didukung tenaga pengajar profesional dan sistem pembelajaran berbasis sertifikasi,” ungkap Rina.
Ia menambahkan, pendekatan inklusif menjadi kunci agar kelompok yang selama ini terpinggirkan bisa ikut merasakan dampak ekonomi dari industri kreatif.
Kolaborasi antara PLN Peduli, Pemkot Cilegon, dan BIP ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terbuka. Bukan sekadar menghasilkan batik, tetapi juga melahirkan pengusaha-pengusaha baru dari akar rumput.