ACEH — Layanan kesehatan di seluruh dunia tengah berjibaku dengan gelombang data yang belum pernah terjadi sebelumnya. Catatan medis elektronik, hasil pencitraan diagnostik, hingga data pasien dari perangkat wearable membanjiri sistem rumah sakit setiap hari. Namun, sebuah laporan anyar justru menemukan fakta ironis: kelimpahan data ini belum tentu berarti kesiapan untuk memanfaatkannya.
The Data Readiness Index 2026 yang baru saja dirilis memberikan sinyal peringatan bagi pemangku kebijakan dan pelaku industri. Indeks ini mengukur sejauh mana sektor kesehatan siap mengadopsi AI untuk meningkatkan pelayanan. Hasilnya, mayoritas institusi kesehatan masih tertinggal dalam hal tata kelola data dan sumber daya manusia.
Laporan tersebut menyoroti dua hambatan fundamental yang sering luput dari perhatian. Pertama, masalah interoperabilitas data. Data yang terkumpul sering kali tersimpan dalam sistem terpisah yang tidak saling terhubung, sehingga sulit dianalisis secara menyeluruh oleh mesin.
Kedua, kesenjangan keterampilan tenaga kerja. Rumah sakit mungkin memiliki perangkat keras canggih, tetapi tanpa staf yang memahami cara mengoperasikan model AI, investasi tersebut menjadi sia-sia. Kombinasi keduanya menciptakan kemacetan yang membuat proyek AI berhenti di tahap uji coba.
Menariknya, hambatan ini tidak membuat investor kabur. Arus modal ke perusahaan rintisan (startup) kesehatan berbasis data justru menunjukkan tren positif. Dana segar kebanyakan mengalir ke pengembangan algoritma diagnostik dan sistem manajemen rumah sakit pintar.
Di Indonesia, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar. Rumah sakit rujukan di kota besar mulai mencoba analisis prediktif untuk mengantisipasi lonjakan pasien, namun masih terbatas pada institusi dengan anggaran IT besar. Sementara itu, fasilitas kesehatan tingkat pertama masih bergulat dengan digitalisasi catatan medis dasar.
Kunci untuk keluar dari kebuntuan ini sebenarnya ada di tangan para pemangku kepentingan. Sebelum menambah kapasitas komputasi, institusi kesehatan disarankan merapikan arsitektur data yang sudah dimiliki. Standarisasi format data dan pelatihan ulang tenaga medis menjadi langkah awal yang lebih murah dibanding membeli teknologi baru.
Laporan ini menegaskan bahwa AI bukanlah pengganti tenaga medis, melainkan alat bantu yang efektif jika disokong fondasi data yang sehat. Bagi pasien, dampaknya akan terasa dari berkurangnya waktu tunggu