Defisit Neraca Dagang Juni 2026 Susut ke US$450 Juta, Apindo Ingatkan Biaya Produksi Bisa Gagalkan Pemulihan Ekspor

Penulis: Ragil  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 10:55:01 WIB
Defisit neraca dagang Juni 2026 menyusut menjadi US$450 juta, menurut data Badan Pusat Statistik.

ACEH — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai target pemerintah untuk membalikkan neraca perdagangan kembali ke zona surplus pada Juli 2026 memiliki dasar yang kuat. Proyeksi ini muncul setelah data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan defisit Juni 2026 menyusut tajam menjadi US$450 juta, dibandingkan defisit US$1,61 miliar pada bulan sebelumnya.

Dua Tekanan Utama yang Masih Membayangi Kinerja Ekspor

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menjelaskan bahwa perbaikan kinerja ekspor tidak bisa dilepaskan dari meredanya volatilitas pasar global dalam satu bulan terakhir. Kondisi ini mulai meningkatkan kepercayaan produsen dalam negeri dan pembeli luar negeri untuk kembali meningkatkan aktivitas produktivitas secara bertahap.

Kendati demikian, Shinta menegaskan bahwa pemulihan tersebut belum cukup untuk memastikan neraca perdagangan langsung surplus. Ia mengidentifikasi dua faktor utama yang masih menahan laju ekspor nasional:

  • Cost-push inflation di sisi produksi yang membuat biaya operasional pabrik tetap tinggi.
  • Kontraksi permintaan pasar ekspor akibat imbas shock krisis energi global yang masih berlangsung.

"Dua faktor yang menciptakan tekanan besar terhadap kinerja ekspor nasional adalah cost-push inflation di sisi produksi dan kontraksi demand pasar ekspor karena imbas dari shock krisis energi global. Kedua faktor ini masih terus berlangsung," kata Shinta dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).

Sektor Manufaktur dan Komoditas Jadi Andalan Jangka Pendek

Dalam jangka pendek, Apindo memperkirakan sektor manufaktur akan menjadi penopang utama, khususnya industri pengolahan nikel dan elektronik. Kedua sektor ini mendapat dorongan dari perkembangan industri digital serta peningkatan adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor ekonomi.

Selain manufaktur, peluang peningkatan ekspor juga terbuka untuk komoditas crude palm oil (CPO), biofuel, dan batu bara. Permintaan komoditas tersebut diperkirakan tetap kuat seiring kebutuhan sejumlah negara untuk mengatasi tekanan krisis energi dan melakukan substitusi minyak dan gas.

Shinta menambahkan, sektor fast-moving consumer goods (FMCG) juga berpotensi membaik. Tekanan inflasi di negara tujuan ekspor yang mulai melandai disebut akan meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk konsumen asal Indonesia.

Biaya Produksi Tinggi Bisa Menggagalkan Ekspansi Bisnis

Meski ada tanda-tanda perbaikan, Shinta mengingatkan pelaku usaha belum bisa sepenuhnya meningkatkan kapasitas produksi. Tingginya biaya produksi masih membatasi ruang gerak pengusaha untuk melakukan ekspansi, sehingga pemulihan ekspor saat ini bersifat rapuh.

"Kami cukup confidence bahwa kinerja ekspor di Juli setidaknya bisa lebih tinggi dibandingkan Juni 2026 atau empat bulan sebelumnya yang diwarnai shock dan volatilitas akibat krisis geopolitik dan krisis energi," ujarnya.

Apindo meminta pemerintah dan dunia usaha tidak terlena dengan perbaikan sementara ini. Peluang peningkatan ekspor dapat kembali berbalik arah apabila tekanan biaya produksi dan ketidakpastian global kembali meningkat di tengah upaya pemulihan ekonomi nasional.

Reporter: Ragil
Sumber: ekbis.harianjogja.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top