BANDA ACEH — Setelah sempat terpangkas dan bertahan di level Rp7.490.000 per mayam, harga emas perhiasan di Banda Aceh kini kembali menunjukkan grafik menanjak. Para pedagang di pasar tradisional mencatat adanya pembalikan arah harga yang cukup signifikan pada akhir pekan ini.
Perubahan harga ini disebut-sebut sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga emas secara umum di pasar acuan. Pedagang emas di Banda Aceh mengakui bahwa kondisi eksternal tersebut menjadi patokan utama dalam menentukan harga jual harian mereka.
Pergerakan harga emas perhiasan di ibu kota Provinsi Aceh ini memang tidak stabil. Dalam sepekan terakhir, harga sempat mengalami koreksi, namun kini berbalik menguat kembali, menciptakan pola yang berubah-ubah dan dinamis.
Kondisi ini membuat para pembeli harus lebih cermat dalam memantau harga sebelum memutuskan untuk membeli perhiasan.
Meski harga dasar emas mengalami perubahan, para pembeli tetap harus menyiapkan dana tambahan di luar harga logam mulia tersebut. Biaya yang dikenal dengan istilah ongkos pembuatan ini menjadi komponen wajib yang tidak bisa dihindari.
Besaran ongkos tersebut berkisar Rp200 ribu per mayam. Namun, perlu dicatat bahwa angka ini tidaklah mutlak, karena sangat tergantung pada model, desain, serta tingkat kerumitan perhiasan yang dipilih oleh konsumen.
Para pedagang emas di Banda Aceh menyebut bahwa perubahan harga perhiasan sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga emas secara umum. Kondisi pasar global dan nasional yang menjadi acuan dalam penentuan harga jual menjadi faktor dominan yang tidak bisa dikendalikan oleh pedagang lokal.
Ketidakpastian ini pun membuat pedagang dan pembeli sama-sama harus ekstra waspada terhadap gejolak harga yang bisa terjadi sewaktu-waktu.