5 Hektare Lahan Bekas Banjir Bandang di Pidie Jaya Disulap Jadi Sentra Bawang Merah, Petani Panen Perdana

Penulis: Saiful  •  Selasa, 07 Juli 2026 | 17:01:38 WIB
Petani Pidie Jaya panen perdana bawang merah di lahan bekas banjir bandang seluas 5 hektare.

PIDIE JAYA — Lahan pertanian seluas 5 hektare yang tersebar di lima lokasi terdampak banjir bandang akhir November 2025 kini mulai menunjukkan hasil. Program percontohan penanaman tanaman rotasi bawang yang diinisiasi Bank Indonesia bersama Universitas Syiah Kuala (USK) berhasil memulihkan produktivitas sawah yang sempat tertimbun pasir dan lumpur setebal 30 sentimeter.

Awal Mula: Lahan Timbunan Pasir yang Disangka Mati

Banjir bandang yang melanda Pidie Jaya pada akhir tahun lalu menyisakan material pasir dan lumpur di puluhan hektare sawah. Muhammad Nurdin, petani dari Kelompok Tani Jaya Desa Meunasah Teungoh, mengaku sempat putus asa melihat lahannya berubah menjadi hamparan pasir.

"Kami sempat mengira sawah ini sudah tidak bisa ditanami lagi. Alhamdulillah, dengan pendampingan dan bantuan dari berbagai pihak, hari ini kami bisa memanen bawang merah. Ini menjadi harapan baru bagi kami," ujarnya.

Peran Akademisi: Analisis Tanah Jadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan program ini tak lepas dari pendampingan tim Fakultas Pertanian USK. Guru Besar Fakultas Pertanian USK Prof. Rina Sriwati menjelaskan bahwa timnya melakukan survei dan analisis tanah terlebih dahulu sebelum memberikan rekomendasi pemupukan.

"Lahan ini merupakan tanah timbunan material banjir dengan ketebalan sekitar 30 sentimeter dan didominasi pasir. Karena itu kami terlebih dahulu melakukan analisis tanah untuk mengetahui kandungan unsur haranya," katanya.

Selain pemupukan, ketersediaan air menjadi faktor krusial. Tim USK membangun sistem penyiraman menggunakan sprinkler agar tanaman dapat tumbuh optimal. Menurut Rina, karakteristik lahan pascabanjir lebih cocok untuk komoditas hortikultura seperti bawang merah dan cabai dibandingkan tanaman berkayu.

BI: Dari Hulu ke Hilir, Bukan Sekadar Tanam

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh Agus Chusaini menegaskan bahwa program ini dirancang untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak bencana. Dukungan BI tidak berhenti pada masa tanam, melainkan mencakup pendampingan pascapanen, pelatihan, hingga akses pemasaran.

"Kami juga akan membantu pada tahap pascapanen dan membuka akses pemasaran melalui agregator agar hasil panen petani memiliki nilai ekonomi yang lebih baik," kata Agus.

Selain bawang merah, BI juga mengembangkan budidaya cabai dan jagung di lokasi yang sama sebagai alternatif komoditas. Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas pasokan pangan dan mengendalikan inflasi daerah, mengingat bawang merah merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi.

Pemda Siapkan Rehabilitasi Lahan Rusak Berat

Plt Kepala Dinas Pertanian Pidie Jaya Muhammad Nur menyebut panen perdana ini sebagai momentum kebangkitan sektor pertanian pascabencana. Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya bersama Pemerintah Aceh saat ini sedang menyiapkan rehabilitasi lahan sawah yang mengalami kerusakan berat.

"Lahan sawah yang rusak berat akan dilakukan pengolahan secara gratis. Kami terus berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh agar petani dapat kembali bercocok tanam secepatnya," ujar Muhammad Nur.

Kegiatan panen perdana itu juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok sektor pertanian dan garam terdampak bencana. Penandatanganan komitmen bersama penanggulangan bencana hidrometeorologi turut dilakukan oleh Pemkab Pidie, Pemkab Pidie Jaya, USK, dan Tim Satgas Rekon.

Reporter: Saiful
Sumber: waspadaaceh.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top