Keputusan itu pertama kali terendus oleh pengguna Reddit D0ntevenknowme di forum PC gaming, setelah Valve diam-diam memperbarui halaman bantuan Steam store. Dalam keterangan resmi yang kini tayang, perusahaan menyematkan tautan ke halaman Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat tentang penipuan kartu hadiah sebagai justifikasi utama penghentian ini.
Valve sebenarnya sudah lama menerapkan berbagai langkah anti-penipuan pada kartu hadiah fisiknya. Namun dalam pernyataan resmi, perusahaan mengakui bahwa "scammers telah beradaptasi. Mereka terus berdampak pada pelanggan Steam dan individu lain yang tidak menaruh curiga."
Kartu hadiah layanan digital — termasuk Amazon, Apple Music, dan Steam — memang sudah lama menjadi senjata favorit penipu. Modusnya klasik: spam SMS atau email palsu yang meminta korban membeli kartu dan mengirimkan kode redeem-nya. Di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi dengan modus "pajak hadiah" atau "verifikasi akun" palsu.
Valve memastikan semua kartu fisik yang sudah beredar tetap bisa digunakan tanpa batas waktu, sesuai hukum setempat. "Kami tidak akan melakukan restock. Kami perkirakan semua ritel akan kehabisan stok pada akhir 2026," tulis Valve dalam halaman bantuannya.
Sebagai gantinya, kartu hadiah digital yang terikat langsung ke akun Steam akan terus dijual normal melalui storefront Steam. Model ini memang lebih aman karena tidak ada kode fisik yang bisa difoto atau dicuri sebelum dibeli.
Di permukaan, keputusan ini terlihat seperti pengorbanan profit demi keamanan pengguna. Tapi analis industri menilai motif sejatinya lebih pragmatis: kekhawatiran terhadap potensi tuntutan hukum. "The North Star yang memandu semua etika di tahun 2026," tulis jurnalis The Verge yang pertama meliput perubahan ini.
Langkah Valve ini mengingatkan pada keputusan mereka sebelumnya yang tunduk pada tekanan payment processor soal moderasi konten — meski kali ini dampaknya jauh lebih tidak beracun. Bagi konsumen Indonesia yang terbiasa membeli voucher fisik di konter pulsa atau Indomaret, transisi ini mungkin merepotkan. Tapi dari sisi keamanan, ini justru kabar baik: satu celah penipuan klasik perlahan ditutup.
Meski Valve tidak menyebut pasar spesifik, Indonesia termasuk salah satu basis pengguna Steam yang besar di Asia Tenggara. Toko ritel seperti GameStation, E2Game, dan minimarket yang menjual voucher fisik akan kehilangan satu sumber pendapatan. Alternatif pembelian kini hanya tersisa melalui transfer bank, e-wallet, atau kartu kredit via store digital Steam — atau dari reseller tidak resmi yang risikonya ditanggung pembeli sendiri.
Bagi para gamer yang biasa membeli voucher sebagai hadiah untuk keponakan atau adik, opsi digital gift card via email tetap tersedia. Bedanya, tidak ada lagi kertas fisik yang bisa dibungkus kado.