Larangan bertanding Gianluca Prestianni resmi berlaku di level global setelah FIFA mengabulkan permintaan UEFA untuk memperluas cakupan sanksi disiplin sang pemain. Winger Benfica tersebut dipastikan absen dalam dua pertandingan pertama Argentina di Piala Dunia mendatang jika masuk dalam skuad pilihan Lionel Scaloni.
Komite Disiplin FIFA memutuskan untuk memberlakukan sanksi enam pertandingan yang sebelumnya dijatuhkan UEFA kepada Gianluca Prestianni ke seluruh kompetisi di bawah naungan FIFA. Keputusan ini merupakan buntut dari tindakan pelecehan verbal yang dilakukan pemain berusia 20 tahun itu terhadap penyerang Real Madrid, Vinicius Junior, dalam laga Liga Champions beberapa waktu lalu.
"Komite Disiplin FIFA telah memutuskan untuk memperluas larangan enam pertandingan yang dijatuhkan oleh UEFA pada pemain Benfica Gianluca Prestianni agar memiliki efek di seluruh dunia," bunyi pernyataan resmi badan sepak bola dunia tersebut pada Rabu waktu setempat.
Keputusan FIFA ini menjadi pukulan telak bagi rencana persiapan tim nasional Argentina dalam upaya mempertahankan gelar juara dunia. Jika terpilih masuk skuad, Prestianni harus melewatkan laga pembuka melawan Aljazair pada 17 Juni di Kansas City, serta partai kedua kontra Austria lima hari kemudian di Arlington, Texas.
Grup Argentina di Piala Dunia kali ini juga dihuni oleh tim debutan Yordania. Situasi ini memberikan dilema bagi pelatih Lionel Scaloni dalam menentukan komposisi pemain depan. Apabila Prestianni akhirnya tidak dipanggil ke dalam skuad tim nasional, ia diwajibkan menjalani sisa masa hukumannya pada kompetisi antarklub Eropa di bawah naungan UEFA musim depan.
Sanksi ini bermula dari insiden di babak gugur Liga Champions saat Benfica menghadapi Real Madrid pada Februari. UEFA menjatuhkan hukuman total enam laga, dengan tiga pertandingan di antaranya merupakan masa percobaan. Prestianni terbukti melakukan penghinaan verbal dengan cara menutupi mulut menggunakan jersei saat melontarkan ejekan kepada Vinicius Junior.
Laporan awal yang didukung oleh rekan setim Vinicius, Kylian Mbappe, menyebutkan bahwa Prestianni menggunakan kata rasis dalam bahasa Spanyol yang berarti "monyet". Meski UEFA tidak dapat membuktikan adanya unsur penghinaan rasial yang dibantah keras oleh sang pemain, Prestianni mengakui bahwa dirinya menggunakan kata-kata yang bersifat homofobik.
Winger muda ini sebenarnya sudah mulai menjalani hukuman pertamanya saat dilarang tampil pada leg kedua melawan Madrid. Namun, dengan intervensi terbaru dari FIFA, hukuman tersebut kini membayangi karier internasionalnya yang baru seumur jagung.
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Prestianni masih masuk dalam rencana besar Lionel Scaloni untuk putaran final Piala Dunia di Amerika Serikat. Pemain Benfica ini baru mencatatkan satu caps bersama tim senior Argentina saat melakoni laga persahabatan pada November tahun lalu.
Namanya sempat masuk dalam daftar pemain cadangan saat Argentina beruji coba melawan Zambia pada 31 Maret, namun ia tidak diturunkan. Scaloni sebelumnya sempat memanggil Prestianni untuk mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan oleh pemain veteran AS Roma, Paulo Dybala, yang saat itu tidak tersedia akibat kondisi fisik.
Kasus Prestianni secara tidak langsung memicu perubahan regulasi dalam permainan sepak bola. Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (Ifab) baru saja mengesahkan aturan bahwa menutupi mulut saat menghina lawan merupakan pelanggaran yang dapat diganjar kartu merah langsung.
Langkah ini diambil untuk mempermudah identifikasi pelecehan di lapangan hijau melalui rekaman video atau pembacaan gerak bibir. FIFA berkomitmen menerapkan aturan ketat ini sepanjang penyelenggaraan Piala Dunia guna meminimalisir insiden serupa yang mencederai sportivitas pertandingan.