Pencarian

IHSG Berpotensi Tertekan, Rupiah di Rp18.150 dan Yield SBN 7,5% Jadi Beban

Rabu, 28 Oktober 2026 • 08:20:01 WIB
IHSG Berpotensi Tertekan, Rupiah di Rp18.150 dan Yield SBN 7,5% Jadi Beban
IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan tertekan setelah anjlok 1,99% ke level 5.266,13 pada Selasa (27/10/2026).

ACEH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan tertekan pada perdagangan Rabu (28/10/2026), setelah anjlok 1,99% ke level 5.266,13 pada Selasa (27/10/2026). Tekanan datang dari pelemahan rupiah ke kisaran Rp18.150 per dolar AS, kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke sekitar 7,5%, dan arus keluar modal asing yang belum berhenti.

Data BNI Sekuritas mencatat aksi jual bersih investor asing atau net sell sekitar Rp709 miliar pada perdagangan Selasa. Lima saham yang paling banyak dilepas asing adalah BMRI, TLKM, BBNI, BRIS, dan BBCA.

Ekonomi dan Fixed Income Analyst BCA Sekuritas Felix Darmawan menilai pelemahan IHSG masih dipengaruhi kombinasi tiga tekanan sekaligus: kurs rupiah, pasar obligasi, dan arus keluar dana asing.

Rupiah dan Yield SBN Jadi Sumber Tekanan Utama

Rupiah telah menyentuh kisaran Rp18.150 per dolar AS, sementara imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,5%. Kombinasi keduanya memperkecil ruang bagi investor untuk menambah eksposur di pasar saham.

Arus keluar modal asing yang masih berlanjut memperparah kondisi. Net sell Rp709 miliar pada Selasa menunjukkan asing belum melihat alasan kuat untuk kembali masuk.

Investor Menanti Kepastian Reformasi Pasar Modal

Felix menyebut pasar saat ini menunggu kejelasan kebijakan, terutama reformasi pasar modal yang sejalan dengan masukan MSCI. Kepastian itu dinilai menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan investor.

"Untuk memulihkan kepercayaan pasar, investor menantikan kepastian kebijakan serta implementasi reformasi pasar modal yang sejalan dengan masukan MSCI," kata Felix.

Valuasi Mulai Menarik, tetapi Akumulasi Tunggu Tekanan Mereda

Menurut Felix, sebagian saham Indonesia mulai terlihat lebih menarik dari sisi valuasi setelah koreksi pasar berlangsung. Namun peluang akumulasi dinilai baru terbuka lebih lebar apabila tekanan terhadap rupiah, pasar obligasi, dan arus keluar modal mulai mereda.

Artinya, bagi investor, sinyal pembalikan arah belum muncul selama tiga faktor tersebut belum stabil. Pelaku pasar saham perlu mencermati pergerakan kurs dan yield SBN sebagai indikator awal sebelum menambah posisi.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks