ACEH — Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan dana asing berpotensi keluar hingga US$ 3 miliar atau setara Rp 54,14 triliun jika MSCI benar-benar menurunkan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Proyeksi itu muncul setelah MSCI membuka konsultasi perubahan klasifikasi pada 15 Oktober 2026, yang langsung memukul IHSG hingga anjlok 10,76% ke level 5.233 pada sesi pertama perdagangan.
Tekanan jual asing sudah terlihat nyata di pasar. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, net foreign sell mencapai Rp 2,92 triliun pada siang hari, dengan foreign buy Rp 5,21 triliun dan foreign sell Rp 8,13 triliun. Hanya 14 saham yang menguat, sementara 771 saham terkoreksi dan 3 saham stagnan.
Secara year to date, IHSG telah anjlok 39,48% dan tergelincir 18,76% dalam sebulan terakhir. Pelemahan ini menjadikan pasar modal Indonesia salah satu yang terburuk di kawasan Asia Tenggara.
Saham Perbankan Besar Jadi Sasaran Utama Pelepasan Asing
Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin menyoroti saham perbankan berkapitalisasi besar dan emiten dengan kepemilikan asing tinggi sebagai kelompok yang paling berisiko terdampak. Empat bank besar menjadi sasaran utama aksi jual asing:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): net sell Rp 1,98 triliun
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): net sell Rp 630,97 miliar
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): net sell Rp 485,08 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): net sell Rp 32,81 miliar
"Freeze MSCI tetap berlaku, sementara risiko tekanan jual asing dan pelemahan IHSG meningkat," kata Wilbert dalam analisisnya, Jumat (16/10).
Wilbert menyarankan investor mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi besar dengan kepemilikan asing tinggi. "Prioritaskan saham dengan kepemilikan domestik lebih besar dan risiko arus dana indeks yang lebih rendah," ucapnya.
BEI Minta Klarifikasi ke MSCI, Sebut Keputusan Belum Final
Bursa Efek Indonesia bergerak cepat merespons pengumuman MSCI. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyatakan pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan telah menjalankan berbagai langkah konkret untuk memperbaiki transparansi, integritas, dan kualitas pasar modal.
"BEI menghormati independensi MSCI dalam melakukan penilaian dan menentukan klasifikasi pasar berdasarkan metodologi yang dimilikinya. Namun demikian, dengan mempertimbangkan berbagai kemajuan dan langkah reformasi yang telah dilakukan, BEI akan meminta klarifikasi lebih lanjut kepada MSCI mengenai dasar pertimbangan dan penilaian yang melatarbelakangi pengumuman tersebut," ujar Jeffrey dalam keterangan tertulis.
BEI menegaskan pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 masih berupa konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi. Pelaku pasar diberi kesempatan menyampaikan masukan hingga 30 April 2027, sehingga statusnya belum final.
Reformasi Fundamental Jadi Fokus, Investor Asing di Luar Kendali BEI
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi mengakui keluarnya investor asing berada di luar kontrol otoritas bursa. Ia menyebut BEI akan fokus pada reformasi fundamental ketimbang mengejar arus dana jangka pendek.
"Kami fokus melakukan reformasi dengan benar dengan tadi ya konsennya MSCI belakangan mereka sebagian investor global merasa masih kurang terkait dengan bukti-bukti efektivitas dan impact serta enforcement dari reformasi ini itu yang kami fokuskan," ucap Iding di Gedung BEI, Jumat (16/10).
Jeffrey menambahkan langkah perbaikan yang dilakukan otoritas pasar modal telah mendapat respons positif dari investor global dan lembaga penyedia indeks internasional. Klaim itu akan diuji dalam proses konsultasi MSCI yang berlangsung hingga April 2027.
Apa Artinya bagi Investor Domestik
Bagi investor ritel, rekomendasi Mirae Asset mengarah pada pergeseran strategi: mengurangi bobot saham blue chip dengan porsi asing besar dan beralih ke emiten yang basis pemegang sahamnya lebih domestik. Saham dengan risiko arus dana indeks rendah menjadi pilihan utama selama ketidakpastian klasifikasi MSCI belum terselesaikan.
BEI berkomitmen terus berkoordinasi dengan OJK dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan perdagangan efek berlangsung teratur, wajar, dan efisien. Upaya itu ditujukan menjaga kepercayaan investor domestik maupun global di tengah tekanan yang belum mereda.