Pencarian

Teuku Afifuddin Rilis Hikayat Sepatu Chapter 2: Kisah Penjaga Gudang yang Dikepung Banjir dan Gelondongan Kayu

Kamis, 27 Agustus 2026 • 15:20:02 WIB
Teuku Afifuddin Rilis Hikayat Sepatu Chapter 2: Kisah Penjaga Gudang yang Dikepung Banjir dan Gelondongan Kayu
Banjir bandang menerjang gudang penyimpanan koleksi sepatu milik Tuan dalam karya Teater Tutur Peugah Haba.

ACEH — Teuku Afifuddin, dosen Program Studi Seni Teater Institut Seni Budaya Indonesia Aceh, kembali mempublikasikan sinopsis karya terbarunya. Adapun karya tersebut berjudul "Hikayat Sepatu Chapter 2: Dikepung Kayu" yang merupakan bagian dari "Teater Tutur Peugah Haba".

Dalam karya ini, Teuku Afifuddin yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Aceh (DKA) periode 2022-2026 menghadirkan kisah tentang Agam, seorang penjaga gudang yang harus berhadapan dengan bencana alam.

Kisah Agam dan Musnahnya Koleksi Sepatu Tuan

Bencana banjir bandang yang datang tanpa kompromi menjadi titik awal konflik dalam karya ini. Gelondongan kayu dan batu menerjang gudang tempat penyimpanan koleksi sepatu milik Tuan, menyapu bersih seluruh koleksi hingga tak tersisa satu pasang pun.

Bagi Agam, musnahnya koleksi tersebut merupakan sebuah kegagalan fatal. Ia gemetar ketakutan menunggu kabar dari Tuannya yang sedang berada di luar negeri.

Ketakutan itu kemudian bertransformasi menjadi amarah dan gugatan tajam terhadap keadaan.

Sepatu dan Kayu: Simbol Kekuasaan yang Saling Terkait

Melalui tuturan berirama khas Peugah Haba, Agam menyadari adanya benang merah antara sepatu dan kayu-kayu gelondongan yang melumat tempat tinggal mereka. Keduanya terikat dalam satu garis lurus kekuasaan.

Kayu-kayu yang menghancurkan rumah mereka merupakan hasil dari perintah orang-orang yang memakai sepatu. Sepatu dalam karya ini bukan lagi sekadar barang mewah atau berhala modern yang dipuja hingga membuat manusia berhutang dan menolak anak bersekolah.

Sepatu dimaknai sebagai warisan kolonial, simbol kekuasaan, harga diri, dan kekerasan. Dulu penjajah memakai sepatu untuk menginjak martabat bumiputra, kini para pemilik sepatu mengeluarkan perintah menumbangkan hutan demi keserakahan.

"Dulu Saya Dikepung Sepatu, Sekarang Dikepung Kayu"

Di tengah puing-puing bencana, Agam berdiri meratap dengan satu kalimat yang menjadi inti kegelisahan karyanya: "Dulu saya merasa dikepung sepatu, sekarang saya dikepung kayu."

Terhimpit di antara ironi bencana dan cermin zaman, Agam menjadi representasi mereka yang terus tertindas oleh struktur kekuasaan yang tak pernah berubah wajahnya.

Karya ini melanjutkan kesaksian panjang tentang banalitas alas kaki yang diangkat pada Hikayat Sepatu sebelumnya, dengan perspektif yang lebih luas tentang relasi kuasa dan kerusakan lingkungan.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: dialeksis.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks