ACEH — Kabar pendanaan ini menjadi sinyal kuat bahwa investor global masih percaya diri menanamkan modal besar di sektor kecerdasan buatan, meski pasar sedang dilanda ketidakpastian. Bagi pengguna awal, Instinct bukan sekadar chatbot—melainkan agen digital yang diklaim mampu mengatur seluruh kebutuhan harian secara mandiri.
Dari Rencana Liburan hingga Atur Pernikahan
Instinct bekerja dengan cara terhubung ke berbagai aplikasi dan perangkat pengguna. Komunikasi dilakukan lewat pesan teks atau panggilan telepon, layaknya asisten pribadi sungguhan. Klaimnya, agen ini bisa merencanakan perjalanan darat lintas negara, membelikan tiket konser, hingga membatalkan langganan layanan yang tidak terpakai.
"Saya senang sekali melihat apa yang dilakukan pengguna awal kami dengan Instinct," tulis Noah Shinn di akun media sosialnya, Rabu (14/8). "Mereka bercerita sudah merencanakan perjalanan lintas negara, belanja bahan makanan mingguan, tiket konser, dan membatalkan langganan senilai ratusan dolar. Bahkan ada yang memakai Instinct untuk merencanakan pernikahan mereka."
Perjalanan Pendanaan Instinct
Putaran Seri B ini menambah total pendanaan Instinct menjadi US$ 350 juta (sekitar Rp 5,7 triliun) sejak berdiri. Perusahaan yang bernaung di bawah Spear Street Technology ini baru beroperasi tahun lalu, dan berhasil mencuri perhatian investor dalam waktu singkat berkat antusiasme pasar terhadap produk AI generatif.
Pendiri Instinct, Noah Shinn, masih berusia 23 tahun. Usianya yang muda tidak menghalangi investor kelas kakap untuk memberi kepercayaan, mengingat traksi awal produk yang dinilai menjanjikan di pasar asisten digital.
Kekhawatiran Privasi Pengguna
Di balik popularitasnya, Instinct memicu perdebatan soal privasi. Sejumlah pengguna di forum daring menyoroti izin akses (permission) yang diminta aplikasi tergolong sangat luas. Ketentuan layanan (terms of use) yang dianggap invasif juga menjadi bahan diskusi hangat di kalangan calon pengguna.
Saat ini Instinct masih dalam tahap uji beta tertutup (private beta). Situs web perusahaan sengaja dibuat minimalis, sejalan dengan posisi produk yang masih eksklusif untuk pengguna undangan.
Apa Artinya bagi Pasar AI Indonesia?
Fenomena Instinct menjadi cermin bagaimana kompetisi asisten AI global semakin ketat. Bagi pelaku bisnis digital di Indonesia, valuasi tinggi di usia perusahaan yang sangat muda menunjukkan bahwa investor global memburu produk dengan pertumbuhan pengguna cepat, bukan sekadar profitabilitas jangka pendek.
Meski belum ada informasi resmi kapan Instinct akan tersedia untuk pasar Asia Tenggara, tren ini menegaskan bahwa adopsi AI agen akan menjadi medan pertempuran berikutnya bagi raksasa teknologi maupun pemain baru.