Pencarian

Rupiah Menguat 0,30% ke Rp17.694 per Dolar AS, Defisit Transaksi Berjalan Batasi Kenaikan

Jumat, 21 Agustus 2026 • 16:08:02 WIB
Rupiah Menguat 0,30% ke Rp17.694 per Dolar AS, Defisit Transaksi Berjalan Batasi Kenaikan
Rupiah ditutup menguat 0,30% ke level Rp17.694 per dolar AS, didukung pelemahan indeks dolar AS di pasar global.

ACEH — Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan indeks dolar AS menjadi katalis utama penguatan rupiah hari ini. Rencana pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS disebut menekan posisi dolar di pasar global.

"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh penurunan indeks dolar AS yang berada di level terendah dalam beberapa bulan seiring rencana pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Pergerakan Mata Uang Asia dan Negara Maju

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS cenderung bervariasi. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan apresiasi 0,73%, disusul dolar Singapura yang naik 0,20% dan yen Jepang yang menguat 0,16%.

Yuan China terapresiasi 0,06%, dolar Hong Kong naik 0,04%, sementara peso Filipina melemah 0,09% dan ringgit Malaysia bergerak stabil.

Adapun mata uang utama negara maju kompak menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia memimpin dengan kenaikan 0,51%, diikuti dolar Kanada yang naik 0,22%, euro Eropa menguat 0,11%, poundsterling Inggris naik 0,07%, dan franc Swiss menguat tipis 0,01%.

Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II Jadi Penahan

Meski berada di zona hijau, penguatan rupiah tidak berjalan maksimal. Lukman menjelaskan data terbaru yang menunjukkan defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai rekor tertinggi menjadi faktor yang membatasi apresiasi mata uang domestik.

"Namun, penguatan rupiah tertahan setelah data terbaru menunjukkan defisit transaksi berjalan kuartal II mencapai rekor tertinggi," ujar Lukman.

Defisit transaksi berjalan yang melebar biasanya menjadi perhatian investor asing karena mencerminkan kebutuhan devisa yang lebih besar untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri. Kondisi ini berpotensi menekan nilai tukar dalam jangka menengah apabila tidak diimbangi arus modal masuk yang kuat.

Investor kini menunggu perkembangan kebijakan fiskal AS dan data neraca pembayaran Indonesia berikutnya untuk mengukur arah pergerakan rupiah pada pekan depan.

Follow porosaceh.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks