ACEH — Balai Besar TNGGP mencatat kebakaran di kawah Wadon Gunung Gede, Cianjur, Jawa Barat, meluas hingga 5,8 hektare. Upaya pemadaman yang melibatkan ratusan petugas gabungan dan relawan masih terus berlangsung, namun di tengah operasi tersebut, puluhan relawan justru menarik diri karena kecewa dengan respons pengelola taman nasional.
Humas Balai Besar TNGGP Agus Deni menyatakan proses penanganan kebakaran masih berjalan. Posko Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) telah didirikan di jalur pendakian sebagai pusat komando, koordinasi, dan logistik.
“Upaya pemadaman masih dilakukan petugas gabungan dan relawan, bahkan 27 personel dari tim gabungan kembali diberangkatkan untuk memperkuat upaya penanganan dan pemantauan kebakaran,” katanya, Jumat (14/8).
Luas Lahan Terdampak dan Titik Api Baru yang Sulit Dijangkau
Pihak TNGGP memperkirakan lahan yang terbakar terutama berada di kawasan kawah Wadon. Informasi terbaru menyebutkan muncul titik api baru yang belum dapat dijangkau karena medan yang sulit dan terisolasi, meskipun potensi penjalaran api dinilai relatif kecil.
Untuk mengantisipasi perluasan area terdampak, petugas gabungan dan relawan memasang sekat bakar selebar dua meter di sekitar lokasi. Langkah ini dilakukan bersamaan dengan penambahan personel dan penguatan koordinasi logistik harian untuk tim di lapangan.
“Secara umum hasil pemantauan menunjukkan perkembangan kondisi yang semakin membaik, namun penyisiran kembali dilakukan untuk memastikan area di sekitar titik bara benar-benar padam,” ujar Agus Deni.
Kekecewaan Relawan: Berjibaku Tanpa Dukungan dan Mendapat Pernyataan Kontradiktif
Di tengah klaim kondisi yang membaik, puluhan relawan memilih meninggalkan lokasi. Mereka mengaku kecewa karena selama berhari-hari memadamkan api tidak mendapat dukungan berarti dari pihak taman nasional. Kekecewaan itu memuncak setelah ada pernyataan resmi bahwa kebakaran sudah kondusif, sementara di lapangan titik api masih muncul di sejumlah lokasi.
“Banyak pernyataan dan tanggapan dari petugas balai yang memperlambat para relawan untuk melakukan penanganan, terlebih tidak ada perhatian terhadap relawan yang bekerja sejak delapan hari terakhir,” kata salah seorang relawan, Niko Rastagil.
Kontradiksi Data di Lapangan vs Pernyataan Resmi
Terdapat perbedaan penekanan antara data resmi dan fakta yang dihadapi relawan di lapangan. Meski Balai TNGGP menyebut kondisi umum semakin membaik, relawan justru menyoroti munculnya titik api baru yang tidak diimbangi dukungan operasional yang memadai.
Ketimpangan ini menjadi catatan penting dalam evaluasi penanganan kebakaran di kawasan konservasi. Koordinasi antara pengelola taman nasional dan elemen masyarakat sipil menjadi kunci utama agar operasi pemadaman tidak berjalan setengah hati di tengah ancaman meluasnya kebakaran lahan.