BANDA ACEH — Aturan baru yang mewajibkan seluruh ekspor CPO melalui satu pintu mulai dirasakan dampaknya oleh petani sawit di Aceh. Harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani turun drastis dalam sepekan terakhir, memicu kekhawatiran akan pendapatan bulanan mereka.
Informasi yang dihimpun dari sejumlah pengepul di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Tamiang menyebutkan, harga TBS saat ini berada di kisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.400 per kilogram. Angka itu turun sekitar Rp 200 hingga Rp 300 dari pekan sebelumnya yang sempat bertahan di level Rp 2.600.
Kebijakan Satu Pintu Ekspor dan Efek Berantainya
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat untuk mengontrol volume ekspor CPO dan menjaga stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri. Namun, di tingkat hilir, petani kelapa sawit di Aceh merasakan dampak langsungnya.
“Harga turun sejak ada pengumuman aturan baru itu. Kami belum tahu pasti apakah ini efek sementara atau akan berlangsung lama,” ujar seorang petani di Kecamatan Peureulak, Aceh Timur, kepada RRI, Senin (17/3). Ia enggan disebutkan namanya karena khawatir akan dampak pada pemasokannya.
Petani Terjepit Biaya Panen dan Harga Jual
Penurunan harga TBS ini menjadi pukulan bagi petani yang baru saja menikmati kenaikan harga beberapa pekan sebelumnya. Biaya panen dan transportasi yang tetap tinggi membuat margin keuntungan mereka menipis.
Di beberapa titik, petani mulai menunda panen dengan harapan harga kembali pulih. Namun, penundaan itu berisiko menurunkan kualitas TBS dan justru memicu kerugian lebih besar saat dijual ke pabrik.
Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait penurunan harga ini. Namun, sejumlah anggota DPRK dari daerah penghasil sawit mulai mendesak agar ada evaluasi terhadap kebijakan ekspor satu pintu tersebut.
Apa yang Bisa Dilakukan Petani Sekarang?
Beberapa kelompok tani di Aceh Tamiang mulai menjajaki kerja sama langsung dengan pabrik kelapa sawit (PKS) di sekitar lokasi untuk memotong rantai tengkulak. Langkah ini diharapkan bisa menekan selisih harga yang terlalu lebar antara petani dan pabrik.
Di sisi lain, pengamat ekonomi pertanian dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, menyarankan agar petani tidak serta-merta menjual TBS dalam kondisi panen raya. “Sebaiknya petani membentuk koperasi atau kelompok usaha bersama agar memiliki daya tawar lebih kuat saat harga anjlok,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, harga TBS di beberapa titik pengumpul di Aceh masih dalam tren menurun. Para petani berharap pemerintah segera mengkaji ulang dampak kebijakan ekspor satu pintu terhadap kesejahteraan petani sawit di daerah.