BANDA ACEH — Puluhan dai dan pegiat media sosial di ibu kota Provinsi Aceh itu dibekali teknik produksi konten dakwah modern, mulai dari video pendek, desain grafis, hingga podcast. Pelatihan ini digagas DSI Kota Banda Aceh untuk menciptakan ekosistem dakwah digital yang berkelanjutan.
Mengapa Dai Perlu Melek Digital Sekarang?
Asisten I Sekdako Banda Aceh, Bachtiar, yang mewakili wali kota saat membuka acara, menekankan bahwa media sosial bukan lagi sekadar hiburan. “Media sosial harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat akhlak dan peradaban. Konten-konten negatif yang merusak nilai harus dikalahkan oleh konten positif dan dakwah yang menyejukkan,” ujarnya.
Menurut Bachtiar, banyak dai, remaja masjid, dan penggiat dakwah yang belum menguasai strategi komunikasi digital. Padahal, generasi Z sebagai target utama dakwah saat ini lebih mudah dijangkau melalui video singkat dan konten visual yang menarik.
Perempuan dan Komunitas Jadi Garda Depan
Kepala DSI Kota Banda Aceh, Alimsyah, didampingi Kepala Bidang Pengembangan Syariah, Wirzaini Usman, menyebut pelatihan ini tidak hanya untuk dai laki-laki. Ibu Profesional Aceh turut dilibatkan karena dinilai punya pengaruh besar dalam pendidikan keluarga dan pembentukan karakter generasi muda lewat media digital.
“Komunitas dakwah seperti AKRAB dan Raisul Fata diharapkan bisa membangun ruang belajar bersama dan memperluas jangkauan dakwah, baik secara daring maupun luring,” kata Alimsyah.
Bekal Keterampilan yang Diberikan
Selama dua hari, peserta mendapatkan materi dari sejumlah narasumber. Wali Kota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, turut menjadi pemateri, bersama penceramah nasional Dr. Tgk. H. Amri Fatmi dan konten kreator Muhammad Al-Munawwir atau Awien Syu’ib.
Alimsyah menambahkan, pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta tentang urgensi dakwah digital sekaligus membekali keterampilan dasar pembuatan konten. “Kami berharap terbangun ekosistem dakwah digital yang berkelanjutan dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya.