ACEH TIMUR — Keyakinan itu disampaikan Zulfahmi menanggapi penetapan Haji Maop oleh DPP Partai Aceh untuk memimpin DPW PA Aceh Timur periode 2026-2031. Wilayah ini selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung suara utama bagi partai berlambang mon cong tersebut.
Pengalaman Panjang Dinilai Jadi Modal Konsolidasi
Menurut Zulfahmi, Haji Maop bukanlah wajah baru dalam peta politik Aceh. Pengalamannya yang panjang dalam dinamika politik lokal disebut menjadi modal utama untuk menyusun strategi baru.
“Pengalaman panjang dalam dinamika politik yang dijalani Haji Maop menjadi bukti bahwa jiwa kepemimpinannya akan menghadirkan strategi baru untuk melanjutkan kesuksesan Partai Aceh dalam menghadirkan manfaat yang berdampak bagi daerah Aceh Timur,” ujar Zulfahmi dalam pernyataannya, Kamis (21/5/2026).
Hubungan Erat dengan Masyarakat Jadi Modal Sukseskan Program
Politisi muda itu juga menyoroti kemampuan konsolidasi Haji Maop yang dinilai sudah teruji. Hubungan erat yang dibangun dengan masyarakat akar rumput diyakini mampu menjadi jembatan untuk menyukseskan program kerja partai ke depan.
Kemampuan ini, lanjut Zulfahmi, akan sangat krusial untuk menjalankan misi politik PA di Aceh Timur selama lima tahun ke depan. Target utamanya adalah memastikan setiap program yang dijalankan memberikan dampak manfaat nyata bagi kemajuan daerah.
Estafet Kepemimpinan di Tengah Dinamika Politik Lokal
Pergantian pucuk pimpinan ini terjadi di tengah dinamika politik Aceh yang terus bergerak. Sebagai partai lokal terbesar, PA dituntut untuk terus melakukan regenerasi tanpa kehilangan sentuhan dengan konstituennya.
Penunjukan Haji Maop oleh DPP PA dianggap sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Zulfahmi optimistis, di bawah komando kepemimpinan baru, solidaritas internal partai akan semakin kuat dan pergerakan politik Partai Aceh di Aceh Timur akan kembali menemukan ritme terbaiknya.