Dr. Teuku Chalidin Yacob bukan nama asing di kancah dakwah internasional. Pria yang mendirikan Ashabul Kahfi Islamic Centre Sydney ini juga duduk sebagai anggota Australian National Imam Council dan penasihat syariah Australian Federation of Islamic Councils.
Di dunia akademik, ia dikenal lewat risetnya tentang jejak pelaut Muslim Bugis-Makassar di Australia. Kajian itu dinilai memperkaya perspektif sejarah interaksi Islam di kawasan Asia-Pasifik.
Ketua Tastafi Banda Aceh, Tgk H Umar Rafsanjani, dan Koordinator Kajian Tastafi Hotel, Tgk Muhammad Balia, turut hadir dalam forum tersebut. Diskusi dipandu Tgk Alwy Akbar Al Khalidi, kandidat doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan yang aktif berdakwah di Aceh dan Medan.
Tiga Tantangan Dakwah Kontemporer yang Mengemuka
Dalam pemaparannya, Dr. Chalidin menekankan bahwa dakwah masa kini tak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara konvensional. “Dakwah masa kini harus mampu menjawab tantangan global dengan strategi kolaboratif, penguatan generasi muda, serta pemanfaatan teknologi digital,” ujarnya.
Setidaknya tiga tantangan utama dibahas dalam forum tersebut. Pertama, perubahan karakter generasi muda yang tumbuh di era digital. Kedua, arus globalisasi pemikiran dan budaya yang sulit dibendung. Ketiga, kompleksitas masyarakat multikultural yang membutuhkan pendekatan dakwah lebih inklusif.
Meski berat, tantangan-tantangan itu justru dinilai sebagai peluang strategis. Forum sepakat bahwa ekspansi dakwah lintas negara bisa diperluas dengan memanfaatkan teknologi dan jaringan diaspora Muslim.
Kolaborasi Lintas Generasi Jadi Kunci
Kajian ini menekankan pentingnya kolaborasi antara ulama, akademisi, generasi muda, dan komunitas diaspora Muslim. Tanpa sinergi, upaya pengembangan dakwah global dinilai akan berjalan timpang.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Lewat kegiatan ini, Tastafi Banda Aceh berharap semangat dakwah dari Aceh bisa terus berkontribusi dalam membangun peradaban Islam di tingkat global.
Target jangka panjangnya: melahirkan generasi dai yang mampu membawa nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ke panggung dunia, bukan sekadar berdakwah di lingkup lokal.