BANDA ACEH — Sektor pariwisata Bumi Serambi Mekkah menunjukkan resiliensi signifikan dengan pertumbuhan angka kunjungan yang tetap stabil secara tahunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, jumlah turis asing pada Maret 2026 melonjak dari angka 2.192 orang pada Maret 2025 menjadi 2.684 orang.
Meski menunjukkan performa kuat dibanding tahun lalu, terdapat fluktuasi tipis jika melihat data bulanan. Angka kunjungan Maret 2026 tercatat turun 1,18 persen apabila disandingkan dengan capaian pada Februari tahun yang sama.
Destinasi Unggulan Sabang dan Banda Aceh Tetap Aman
Pemerintah memastikan bahwa bencana yang melanda beberapa kabupaten dan kota di Aceh pada akhir November 2025 tidak melumpuhkan seluruh sektor pariwisata. Sejumlah destinasi prioritas dipastikan tidak terdampak dan tetap beroperasi secara normal untuk menyambut pelancong.
Kabid Pemasaran Pariwisata Disbudpar Aceh, Akmal Fajar, menyebutkan kawasan seperti Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Singkil, hingga Simeulue dalam kondisi aman. Wilayah-wilayah ini menjadi tumpuan utama dalam menggaet wisatawan dalam jangka pendek.
“Destinasi-destinasi tersebut terus kami dorong sebagai prioritas promosi dalam jangka pendek,” kata Akmal di Banda Aceh, Kamis.
Rehabilitasi Destinasi dan Strategi Promosi Digital
Bagi wilayah yang sempat terdampak bencana, pemerintah daerah kini menitikberatkan fokus pada proses rehabilitasi. Langkah pemulihan ini dirancang dengan memperhatikan aspek ketahanan bencana agar infrastruktur wisata lebih berkelanjutan di masa depan.
Guna menjaga momentum pertumbuhan, Disbudpar Aceh mulai menggeser strategi pemasaran ke arah yang lebih adaptif. Penguatan informasi dilakukan melalui platform digital serta kolaborasi intensif dengan komunitas dan pelaku industri kreatif.
“Kami mengoptimalkan berbagai platform, baik digital maupun kolaborasi dengan pelaku industri dan komunitas guna memastikan informasi destinasi tetap tersampaikan secara luas dan akurat,” ujar Akmal.
Pemerintah Provinsi Aceh optimistis sinergi antara pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, hingga pembuat konten (influencer) mampu mengembalikan kepercayaan publik. Upaya kolektif ini diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi di seluruh sektor pendukung pariwisata daerah.