Pencarian

'Aisyiyah Aceh Bekali 14 Anak Panti Keterampilan Menjahit di Banda Aceh

Rabu, 06 Mei 2026 • 13:40:14 WIB
'Aisyiyah Aceh Bekali 14 Anak Panti Keterampilan Menjahit di Banda Aceh
remaja putri Panti Asuhan Muhammadiyah Punge Blang Cut mengikuti pelatihan menjahit di Banda Aceh.

BANDA ACEH — Sebanyak 14 remaja putri yang menetap di Panti Asuhan Muhammadiyah Punge Blang Cut, Kota Banda Aceh, mulai mengikuti pelatihan keterampilan menjahit intensif. Kegiatan yang diinisiasi Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Aceh ini bertujuan memberikan bekal ekonomi bagi kelompok duafa dan anak yatim.

Pelatihan tersebut resmi dimulai pada Sabtu (2/5/2026) bertempat di aula Klinik Muhammadiyah Banda Aceh. Lokasi yang berada di Jalan Punge Blang Cut ini dipilih karena letaknya yang strategis dan tidak jauh dari tempat tinggal para peserta.

Jadwal Pelatihan Selama Tiga Bulan

Program pemberdayaan ini dirancang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dengan total 24 kali pertemuan. Penanggung jawab kegiatan, Hayati, menjelaskan bahwa proses pelatihan dilaksanakan secara rutin dua kali dalam sepekan, yakni setiap hari Sabtu dan Minggu.

“Jadwal tersebut disusun agar tidak mengganggu aktivitas pendidikan formal para peserta yang sebagian besar masih aktif bersekolah di tingkat SMA,” ujar Hayati yang juga merupakan bagian dari Divisi Pemberdayaan dan Pengembangan MKS PWA Aceh.

Langkah ini merupakan penyempurnaan dari program serupa yang pernah dilaksanakan pada Juli 2024 lalu. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, panitia kini lebih memperkuat materi pelatihan, metode pendampingan, hingga sistem evaluasi agar hasil yang dicapai peserta lebih maksimal.

Fokus pada Kemandirian Ekonomi dan Mental

Wakil Ketua PWA Aceh, Zaidar Jaafar, menyebut program ini sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas individu. Fokus utamanya adalah membekali anak-anak panti dengan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun peluang usaha.

Selain penguasaan teknik dasar menjahit dan pengenalan alat, para peserta akan diperkenalkan pada konsep pengelolaan usaha kecil. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun sikap mandiri serta kesiapan mental peserta dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

Ketua PWA-MKS Aceh, Oriza Saphrina, menegaskan bahwa keterampilan menjahit memiliki peluang pasar yang cukup luas. Menurut perempuan yang akrab disapa Rina ini, kompetensi tersebut sangat relevan bagi perempuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga maupun peran aktif di masyarakat.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap peserta memiliki bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk membuka usaha mandiri, meningkatkan rasa percaya diri, serta mampu berperan aktif di tengah masyarakat,” kata Rina.

Dukungan Peralatan untuk Modal Awal

Sebagai bentuk dukungan nyata, organisasi juga menyerahkan peralatan menjahit secara simbolis kepada para peserta. Bantuan ini dimaksudkan agar peserta dapat langsung mempraktikkan materi yang diberikan selama proses belajar berlangsung tanpa terkendala fasilitas.

Peralatan tersebut juga diproyeksikan menjadi modal awal bagi remaja putri tersebut setelah menyelesaikan pelatihan. Dengan tersedianya alat yang memadai, mereka diharapkan bisa langsung memulai usaha skala kecil atau menerima jasa jahitan secara mandiri.

Rina menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen peserta. Ia mengajak seluruh siswi panti untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan sungguh-sungguh demi mencapai kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Bagikan
Sumber: suaramuhammadiyah.id

Berita Terkini

Indeks