NAGAN RAYA — Kabar baik datang bagi pekebun kelapa sawit di Kabupaten Nagan Raya. Berdasarkan data resmi Dinas Perkebunan setempat per 10 Agustus 2026, harga pembelian TBS di tingkat pabrik mengalami kenaikan signifikan, berkisar antara Rp2.930 hingga Rp3.040 per kilogram.
Bupati Nagan Raya Teuku Raja Keumangan menegaskan bahwa capaian harga yang menembus angka Rp3.000 ke atas ini merupakan kabar baik yang sangat membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat.
"Kami merespon positif perkembangan harga TBS kelapa sawit saat ini. Capaian harga yang menyentuh angka Rp3.000 hingga Rp3.040 per kilogram ini merupakan kabar baik yang tentunya sangat membantu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan para petani kita di Nagan Raya," kata Teuku Raja Keumangan di Nagan Raya, Senin.
Kenaikan harga ini terjadi di hampir seluruh pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di kabupaten tersebut. PT Fajar Baizury & Brothers menjadi yang tertinggi dengan harga Rp3.040 per kilogram.
Adapun rincian harga pembelian TBS di tingkat PKS Nagan Raya per 10 Agustus 2026 adalah sebagai berikut:
Sementara itu, tiga perusahaan lainnya, yakni PT Socfindo Seunagan, PT Socfindo Seumayam, dan PT Kallista Alam, tercatat tidak melakukan pembelian TBS dari pekebun mandiri pada periode ini.
Pemerintah Kabupaten Nagan Raya berkomitmen untuk terus memantau pergerakan harga beli di lapangan. Dinas Perkebunan akan memastikan penetapan harga yang dilakukan perusahaan tetap transparan dan adil sesuai ketentuan yang berlaku.
Teuku Raja Keumangan menambahkan, dalam setiap pertemuan dengan pimpinan perusahaan, dirinya selalu mengimbau agar harga sawit terus ditingkatkan. Pemerintah daerah juga akan mengawasi perkembangan ini setiap saat demi menjaga kemitraan yang harmonis antara PKS dan petani lokal.
"Dalam setiap pertemuan dengan pimpinan perusahaan, saya selalu mengimbau dan mendorong agar harga sawit di Nagan Raya terus ditingkatkan. Pemerintah daerah akan terus memantau dan mengawasi perkembangan harga ini setiap saat," pungkasnya.
Kondisi ini diharapkan membawa angin segar bagi perekonomian masyarakat, khususnya para petani sawit swadaya yang selama ini menggantungkan hidupnya pada komoditas perkebunan tersebut.