BIREUEN — Tim mahasiswa yang dibentuk Dekan Fakultas Sains Pertanian dan Peternakan (FAPERTA) UNIKI, Mizan Maulana, SP., MSi, ini bertugas mengumpulkan sejumlah data kunci. Mulai dari proses budidaya, penggunaan sarana produksi, produktivitas lahan, biaya usaha tani, hingga jalur pemasaran jagung yang selama ini berjalan.
Pembelajaran berbasis lapangan ini sengaja dirancang agar mahasiswa tidak hanya berkutat pada teori di ruang kelas. Mereka dituntut memahami realitas pertanian dengan berinteraksi langsung bersama petani dan mengamati aktivitas budidaya di lokasi.
Mizan Maulana menegaskan bahwa kompetensi calon sarjana pertanian tidak cukup dibangun dari literatur. Menurutnya, mahasiswa harus melihat sendiri bagaimana petani menghitung produksi, menghadapi kendala, dan memasarkan hasilnya.
"Mahasiswa pertanian tidak cukup hanya memahami teori di dalam kelas. Mereka harus melihat langsung bagaimana petani melakukan budidaya, bagaimana produksi dihitung, apa kendala yang dihadapi, serta bagaimana hasil pertanian dipasarkan," ujarnya.
Dari proses observasi itu, lanjut Mizan, mahasiswa belajar menganalisis persoalan pertanian berdasarkan kondisi faktual. Data lapangan yang dihimpun menjadi dasar untuk mengidentifikasi peluang peningkatan produktivitas serta merumuskan rekomendasi yang relevan bagi pengembangan jagung di wilayah tersebut.
Kegiatan pendataan ini sekaligus menjadi langkah awal mempererat komunikasi antara perguruan tinggi dan komunitas petani di Bireuen. Hasil pengamatan mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai tugas akademik, tetapi berkembang menjadi bahan kajian penelitian dan program pengabdian masyarakat ke depan.
FAPERTA UNIKI menargetkan mahasiswanya menjadi lulusan yang unggul secara akademik sekaligus peka terhadap persoalan pembangunan pertanian daerah. Kemampuan observasi, analisis data, dan komunikasi dengan petani menjadi bekal utama yang ditanamkan melalui kegiatan semacam ini.
Bate Raya sendiri merupakan salah satu gampong di Kecamatan Juli yang memiliki aktivitas budidaya jagung. Pendataan ini menjadi potret awal bagaimana komoditas tersebut dikelola di tingkat desa, termasuk berbagai tantangan yang membayangi petani dalam rantai usaha tani mereka.