MEULABOH — Kepastian itu disampaikan Bupati Aceh Barat Tarmizi SP, MM usai meninjau langsung lokasi pembangunan bersama para asisten dan kepala SKPK terkait pada Sabtu (8/8/2026). Dalam peninjauan tersebut, Tarmizi memastikan progres persiapan lahan seluas 7,5 hektare semakin baik dan sesuai target.
“Karena kita mengejar target, insyaallah kalau lahannya siap dan syarat-syaratnya sudah kita penuhi maka pembangunan akan dilakukan pada bulan Oktober 2026 mendatang sesuai jadwal yang sudah disampaikan Menteri,” kata Tarmizi.
Kendala utama yang dihadapi saat ini bukanlah pembebasan lahan, melainkan kondisi kontur tanah. Hasil land clearing menunjukkan lahan yang sebelumnya dianggap siap bangun ternyata harus melalui proses penimbunan terlebih dahulu.
“Berbagai kendala-kendala di lapangan yang sebelumnya kita pikir bahwa lahan ini siap dibangun ternyata pada saat land clearing lahan 7,5 hektare ini harus ditimbun dengan ketebalan rata-rata dua meter,” ungkapnya.
Proses penimbunan ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah kabupaten. Untuk mengejar target Oktober, pekerjaan dilakukan siang dan malam, sebuah konsekuensi yang ditegaskan langsung oleh orang nomor satu di Aceh Barat tersebut.
Di sela-sela peninjauan, Tarmizi juga menyoroti dampak aktivitas proyek terhadap kenyamanan warga sekitar. Ia secara khusus meminta kepada para sopir truk pengangkut tanah timbunan untuk disiplin memasang terpal saat melintasi jalan umum.
“Supaya waktu kering tidak ada debu dan pada saat hujan tidak licin jalannya, karena ini kejar target harus kerja siang dan malam,” tegasnya kepada awak media.
Instruksi ini bukan sekadar formalitas. Tarmizi menilai material tanah yang berjatuhan di jalan raya berpotensi mengganggu pengguna jalan lain dan menciptakan kondisi tidak aman, terutama saat musim hujan tiba.
Pembangunan Sekolah Rakyat ini bukan proyek infrastruktur biasa. Tarmizi menegaskan proyek ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang bersandar pada surat resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Sosial (Kemensos).
Kehadiran sekolah ini diharapkan menjadi jawaban atas persoalan akses pendidikan bagi kelompok masyarakat paling bawah. Sekitar 1.000 anak dari keluarga fakir miskin di Kabupaten Aceh Barat akan menjadi peserta didik pertama di sekolah tersebut.
“Ini Proyek Strategis Nasional (PSN) dan untuk membantu masyarakat kita, nantinya ada sekitar 1.000 anak fakir miskin yang akan sekolah di sini,” ujar Tarmizi.
Dengan dimulainya pembangunan pada Oktober mendatang, pemerintah kabupaten optimistis proses belajar mengajar dapat segera dimulai pada tahun ajaran berikutnya, sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.