6 Desa Wisata di Aceh dengan Tradisi Unik yang Masih Hidup

Penulis: Sutomo  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:32:01 WIB
Masyarakat Pulo Aceh menggelar Kenduri Laot sebagai ungkapan syukur sebelum musim melaut tiba.

Aceh sering disebut sebagai "Serambi Mekkah", tapi di balik julukan itu ada lapisan budaya yang lebih dalam dari sekadar label. Di pelosok desa, tradisi dirawat bukan sebagai atraksi turis, melainkan sebagai napas kehidupan sehari-hari. Saya pernah menghabiskan waktu beberapa hari di pedalaman Aceh Besar dan Pidie, dan di sanalah saya menyadari: desa wisata di Aceh bukan soal spot foto, melainsoal menyaksikan bagaimana komunitas menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.

Dari ritual turun-temurun hingga arsitektur rumah panggung yang penuh filosofi, berikut enam desa wisata yang menawarkan pengalaman budaya otentik. Catatan penting: harga tiket dan jam buka sering berubah, jadi selalu konfirmasi ke pengelola lokal atau Dinas Pariwisata setempat sebelum berangkat.

1. Desa Wisata Pulo Aceh — Tradisi Bahari yang Tak Lekang Waktu

Pulo Aceh adalah gugusan pulau di barat laut Banda Aceh, dan desa utamanya menyimpan tradisi bahari yang kuat. Masyarakat di sini masih memegang ritual "Kenduri Laot" — upacara syukuran kepada laut yang dilakukan sebelum musim melaut tiba. Ritual ini bukan sekadar seremoni; ia adalah sistem kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Untuk mencapai lokasi, Anda perlu menyeberang dengan kapal cepat dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam tergantung cuaca. Waktu terbaik berkunjung adalah antara Maret hingga September saat gelombang relatif tenang.

2. Desa Wisata Kete Kesik — Rumah Tradisional di Lereng Gunung

Kete Kesik terletak di Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, sekitar 90 menit berkendara dari Takengon. Desa ini terkenal dengan rumah-rumah panggung khas Gayo yang terbuat dari kayu pilihan, berdiri di atas lereng yang menghadap Danau Laut Tawar. Yang menarik, penduduk desa masih mempertahankan sistem gotong royong "serano" dalam membangun rumah — sebuah tradisi yang nyaris punah di daerah lain.

Anda bisa berinteraksi langsung dengan warga untuk belajar menenun kerawang Gayo, motif khas yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Jangan lupa mencoba kopi gayo yang ditanam di kebun warga setempat — aromanya berbeda dari kopi yang Anda temui di kafe kota.

3. Desa Wisata Beunyot — Mempertahankan Adat Perkawinan Aceh

Beunyot adalah desa di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, yang masih konsisten menjalankan adat perkawinan lengkap dengan prosesi "peusijuek" (tepung tawar) dan "meugang" (memasak daging besar-besaran sebelum hari raya). Yang membedakan desa ini dari desa lain adalah komitmen warganya untuk melibatkan pengunjung dalam prosesi adat tersebut — bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari ritual.

Desa ini berjarak sekitar 30 menit dari Banda Aceh, mudah diakses dengan kendaraan pribadi atau ojek online. Jika beruntung, Anda bisa menyaksikan prosesi pernikahan adat yang biasanya digelar pada bulan-bulan tertentu setelah panen.

4. Desa Wisata Pulo Breuh — Perpaduan Alam dan Sejarah

Pulo Breuh adalah pulau terbesar di gugusan Pulo Aceh dengan desa wisata yang dikelola langsung oleh masyarakat setempat. Keunikan desa ini terletak pada tradisi "Pelepah Pinang" — ritual penyambutan tamu yang melibatkan tarian dan musik tradisional, diikuti dengan jamuan kuliner khas seperti eungkot kayee (ikan kayu) dan sie reuboh (daging kering khas Aceh).

Pulau ini juga menyimpan jejak sejarah perjuangan maritim Aceh yang jarang diketahui orang. Anda bisa menyewa perahu nelayan untuk mengelilingi pulau, atau sekadar berjalan kaki menyusuri desa untuk melihat kehidupan sehari-hari masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan dan pembudidaya rumput laut.

5. Desa Wisata Lambunot — Kearifan Lokal dalam Pertanian

Lambunot, yang terletak di Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, adalah desa yang mempertahankan sistem pertanian tradisional "sistem irigasi tuha" — saluran air yang dibangun secara gotong royong ratusan tahun lalu. Sistem ini masih berfungsi hingga kini, dan warga desa membuka kesempatan bagi pengunjung untuk belajar mengelola sawah secara tradisional.

Desa ini juga dikenal dengan tradisi "khanduri blang" — ritual syukuran sebelum musim tanam yang diadakan setiap tahun. Jika berkunjung pada bulan Mei-Juni, Anda berkesempatan menyaksikan ritual ini yang biasanya dihadiri seluruh warga desa dengan pakaian adat lengkap.

6. Desa Wisata Lamreh — Rumah Cut Nyak Dhien dan Tradisi Tenun

Lamreh adalah desa di Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar, yang dikenal sebagai tempat singgah Cut Nyak Dhien selama masa perjuangan. Desa ini masih mempertahankan rumah-rumah tradisional Aceh yang terbuat dari kayu dengan ukiran khas. Namun yang lebih menarik adalah tradisi menenun songket Aceh yang masih dilakukan oleh para perempuan di desa ini.

Anda bisa belajar menenun langsung dari pengrajin lokal, atau sekadar membeli kain songket asli buatan tangan — bukan produksi mesin. Proses pembuatan satu kain songket bisa memakan waktu berminggu-minggu, sehingga harganya memang lebih tinggi dibanding kain tenun produksi massal.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Berkunjung

Beberapa hal penting perlu Anda siapkan sebelum menjelajahi desa-desa wisata di Aceh. Pertama, hormati norma lokal — berpakaian sopan dan menutup aurat adalah keharusan, bukan pilihan. Kedua, sebagian desa wisata belum memiliki infrastruktur pariwisata yang lengkap, jadi bawalah perlengkapan pribadi secukupnya.

Ketiga, jadwal ritual adat sering kali tidak menentu dan bergantung pada musim atau kalender Islam. Hubungi pengelola desa wisata atau Dinas Pariwisata setempat untuk memastikan jadwal kegiatan sebelum Anda datang. Keempat, siapkan uang tunai — banyak desa yang belum memiliki mesin ATM atau layanan pembayaran digital.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah desa-desa wisata di Aceh aman untuk wisatawan?
Aceh adalah daerah yang aman bagi wisatawan selama Anda menghormati norma dan aturan setempat. Masyarakat Aceh dikenal ramah dan terbuka terhadap pengunjung yang menunjukkan rasa hormat terhadap budaya mereka.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi desa wisata di Aceh?
Waktu terbaik adalah antara Maret hingga September saat cuaca relatif kering. Hindari musim hujan (Oktober-Februari) karena akses jalan ke beberapa desa bisa menjadi sulit.

Bagaimana cara mencapai desa-desa wisata tersebut?
Sebagian besar desa wisata dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi atau transportasi umum dari Banda Aceh. Untuk desa di pulau seperti Pulo Aceh dan Pulo Breuh, Anda perlu naik kapal dari Pelabuhan Ulee Lheue.

Apakah ada penginapan di desa-desa wisata ini?
Beberapa desa telah memiliki homestay yang dikelola warga, sementara yang lain belum. Untuk desa tanpa penginapan, Anda bisa menginap di kota terdekat atau menyewa penginapan di Banda Aceh.

Apakah wisatawan asing diperbolehkan berkunjung ke desa-desa ini?
Ya, wisatawan asing diperbolehkan, namun disarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal yang memahami budaya dan bahasa setempat untuk memudahkan komunikasi.

Desa-desa wisata di Aceh menawarkan pengalaman yang jauh berbeda dari destinasi wisata mainstream. Di sini, Anda bukan hanya melihat budaya dari jauh, tetapi ikut merasakan denyut kehidupan masyarakat yang menjaga warisan leluhur dengan bangga. Setiap kunjungan adalah pertukaran — Anda belajar dari mereka, dan mereka terbuka menerima kehadiran Anda sebagai bagian dari cerita desa yang terus berjalan.

Reporter: Sutomo
Back to top