BANDA ACEH — Upaya membentengi generasi muda dari paparan ideologi ekstrem di era digital kini masuk babak baru. Satgaswil Aceh Densus 88 Antiteror Polri menggandeng Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh untuk merancang program pembinaan yang adaptif terhadap tantangan zaman, menyusul maraknya penyebaran konten provokatif melalui ruang digital.
Koordinasi yang berlangsung di Kantor Dispora Aceh, Banda Aceh, pekan ini, dipimpin langsung Pelaksana Harian Kasatgaswil Aceh Densus 88 AT Polri, AKBP Goentoro Wisnoe Tjahjono, S.Pd., M.H. Kedatangan rombongan disambut Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh, T. Banta Nuzullah, S.Pd.
AKBP Goentoro Wisnoe Tjahjono menegaskan, kemajuan teknologi informasi tidak hanya membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Di sisi lain, ruang digital kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menebar narasi intoleransi hingga ajakan yang berpotensi mengarah pada tindakan terorisme.
Menurutnya, pendekatan pencegahan harus dilakukan secara komprehensif. Penindakan hukum dinilai bukan satu-satunya jalan.
"Karena itu, pendekatan pencegahan harus dilakukan secara komprehensif melalui edukasi, penguatan karakter, peningkatan literasi digital, serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Pencegahan akan jauh lebih efektif ketika seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama," ujarnya.
Pihak Dispora Aceh menyambut baik inisiatif ini. T. Banta Nuzullah menekankan, pembinaan kepemudaan tidak hanya diarahkan untuk melahirkan generasi yang unggul dalam prestasi, tetapi juga memiliki integritas dan nasionalisme.
Dispora Aceh siap mendukung program kolaboratif yang melibatkan pelajar, mahasiswa, organisasi kepemudaan, komunitas, hingga pegiat literasi. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ideologi bangsa di kalangan muda.
Kerja sama ini menyoroti pentingnya kemampuan menyaring informasi secara kritis. Generasi muda adalah kelompok paling aktif memanfaatkan teknologi, sekaligus yang paling rentan terpapar narasi yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Melalui sinergi ini, edukasi mengenai bahaya paham IRET diharapkan menjangkau lebih luas. Target utamanya adalah membangun daya tangkal generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh konten provokatif yang beredar di media sosial.
Kolaborasi ini menjadi cerminan bahwa menjaga persatuan bangsa bukan hanya tanggung jawab aparat keamanan semata. Dari sinergi inilah diharapkan lahir generasi muda Aceh yang cerdas, moderat, dan mampu menjadi pelopor perdamaian di Bumi Serambi Mekkah.