BANDA ACEH — Forum yang mengusung tema "Meneguhkan Tanggung Jawab Kolektif dalam Penguatan Syariat Islam Menuju Banda Aceh Kota Kolaborasi" ini menjadi ajang evaluasi sekaligus penyusunan peta jalan implementasi syariat. Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal secara tegas menyebut penegakan syariat bukan sekadar tugas aparatur, melainkan amanah kolektif yang harus dipikul seluruh elemen masyarakat.
Kehadiran ulama kharismatik asal Mesir itu disebut sebagai penguat hubungan keilmuan antara Aceh dan Universitas Al-Azhar yang telah lama menjadi rujukan pendidikan Islam dunia. Syeikh Dr. Hisyam Al-Kamil Hamid Musa mengaku Banda Aceh menjadi daerah pertama yang ia kunjungi di Asia.
Illiza tidak menampik masih adanya pelanggaran syariat di Banda Aceh. Ia juga menyoroti dampak media sosial yang kian masif dan dinilai menggerus ketahanan keluarga.
"Penegakan syariat Islam masih menghadapi berbagai tantangan, masih ada pelanggaran syariat, belum lagi persoalan media sosial yang memengaruhi keluarga kita," kata Illiza dalam sambutannya, Minggu malam.
Menurutnya, roadmap penguatan syariat tidak boleh hanya berputar pada persoalan ibadah mahdhah. Cakupannya harus lebih luas, termasuk muamalah, tata niaga, hingga perilaku kehidupan sehari-hari warga.
Dalam tausiahnya, Syeikh Dr. Hisyam Al-Kamil Hamid Musa menegaskan bahwa keharmonisan antara pemimpin dan ulama adalah fondasi peradaban. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah dengan merangkul seluruh komponen.
"Jika ulama dan umara bersatu, masyarakat akan hidup dalam keadaan baik dan sejahtera. Sebaliknya, jika keduanya tidak bersinergi, maka akan muncul berbagai persoalan," ujarnya.
Ulama kelahiran Kairo itu juga mengingatkan pentingnya dukungan fasilitas pendidikan yang memadai agar perintah Allah dan sunnah Rasulullah dapat dijalankan dengan baik. Ia menilai pemimpin memiliki peran strategis dalam menjaga agama melalui kebijakan yang berpihak pada pendidikan.
Setelah sesi tausiah, acara dilanjutkan dengan dialog interaktif antara Syeikh Hisyam, jajaran Forkopimda, pimpinan dayah, para dai, muhtasib gampong, serta akademisi se-Kota Banda Aceh. Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah turut hadir dalam forum tersebut.
Pemko Banda Aceh memastikan seluruh masukan yang mengalir dalam sesi dialog akan dirumuskan menjadi rekomendasi resmi. Dokumen tersebut nantinya menjadi pijakan dalam menyusun kebijakan penguatan syariat Islam di ibu kota Provinsi Aceh.
Illiza menutup sambutannya dengan harapan besar agar forum ini melahirkan komitmen jangka panjang. "Mudah-mudahan suatu hari ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab menjaga syariat Islam di Banda Aceh, jawabannya bukan hanya pemerintah, bukan hanya ulama, tetapi kita semua," pungkasnya.