Kopi Liberika Tangse Mulai Diolah Jadi Minuman Modern, Petani di Pidie Dapat Harga Lebih Baik

Penulis: Ragil  •  Senin, 20 Juli 2026 | 19:02:01 WIB
Petani memetik buah kopi liberika di kawasan pegunungan Tangse, Kabupaten Pidie, yang mulai diolah menjadi minuman modern.

PIDIE — Kopi liberika yang tumbuh di kawasan pegunungan Tangse, Kabupaten Pidie, mulai mendapat tempat di kedai kopi modern. Jenis kopi yang populasinya sangat kecil di dunia ini sebelumnya nyaris tak tersentuh pasar, kalah pamor dibanding arabika dan robusta.

Owner Barika Cafe, Anugrah Pratama, menyebut kopi liberika Tangse sebagai emas hijau yang selama ini tersembunyi. “Tangse punya emas hijau yang sustainable, namanya kopi liberika. Ini salah satu kopi langka di dunia yang selama ini belum banyak dikenal,” ujarnya di kedai kopi Barika Batoh, Banda Aceh, Senin (20/6/2026).

Rasa Kopi yang Berubah Seiring Waktu

Menurut Anugrah, liberika memiliki karakter rasa unik: creamy, fruity, dan smoky. Yang membedakannya dari kopi lain, rasa kopi ini terus berkembang setelah proses roasting.

Pada periode tertentu, rasa yang muncul menyerupai buah nangka, lalu berubah menjadi karakter durian, hingga muncul sensasi seperti kacang dan buah lainnya. “Ini yang menarik dari liberika. Rasanya tidak berhenti di satu karakter, ada perjalanan rasa setelah proses roasting,” kata Anugrah.

Keunikan itu membuka peluang liberika masuk ke pasar kopi spesialti, segmen yang selama ini mencari kopi dengan karakter kuat dan cerita asal yang jelas.

Dari Biji Biasa ke Minuman Modern

Barika tidak hanya menjual biji kopi hasil roasting, tetapi juga menyajikannya dalam bentuk minuman kekinian. Ada sanger liberika, americano liberika, dan kopi susu liberika yang bisa dinikmati di dua lokasi: Kedai Kopi Barika Lambaro, Aceh Besar, dan Barika kawasan Batoh, Banda Aceh.

“Di Aceh ini pertama kali adanya di Kedai Kopi Barika,” sebut Anugrah.

Menurutnya, pendekatan ini penting agar kopi lokal lebih mudah dikenal, terutama oleh generasi muda yang kini banyak mengenal kopi melalui coffee shop. “Kalau hanya dijual dengan cara lama, jangkauannya terbatas. Kami ingin kopi liberika Tangse masuk ke pasar kopi modern,” katanya.

Petani Didorong Panen Buah Merah

Persoalan terbesar dalam pengembangan liberika justru berada di tingkat petani. Selama ini, kopi liberika belum dianggap bernilai tinggi, sehingga harga jual di petani rendah dan proses pasca panen belum mendapat perhatian serius.

Anugrah mengakui banyak petani belum melakukan pemilahan kualitas saat panen karena tidak ada perbedaan harga signifikan antara kopi berkualitas dan campuran. Padahal, kualitas biji sangat menentukan cita rasa akhir.

Barika mulai membangun pola kemitraan dengan petani Tangse. Salah satu langkahnya mendorong petani melakukan panen buah kopi merah dan memperbaiki proses pengeringan. “Kami ingin petani melihat bahwa kopi ini punya nilai. Kalau kualitasnya dijaga, maka harga dan pasar juga akan berubah,” kata Anugrah.

Malaysia Mulai Melirik Liberika Tangse

Kopi liberika Tangse tak hanya menarik perhatian pasar lokal. Malaysia menjadi salah satu negara yang mulai melirik pengembangan kopi ini. Bagi Barika, langkah memperkenalkan liberika ke pasar yang lebih luas adalah bagian dari perjalanan panjang mengangkat salah satu kekayaan Aceh yang hampir terlupakan.

Pohon liberika sendiri dapat tumbuh tinggi dan berdampingan dengan vegetasi lain, sehingga berpotensi dikembangkan dengan konsep pertanian berkelanjutan. Dari Tangse, kopi ini perlahan bergerak menuju pasar yang lebih luas.

Reporter: Ragil
Sumber: masakini.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top