ACEH — Kebun Gizi Rawajaya membuktikan bahwa lahan perkotaan yang terbatas bisa produktif. Di RPTRA Rawa Jaya, Kelurahan Pondok Kopi, warga menanam aneka komoditas: melon, anggur, cabai merah, pakcoy, jagung, hingga bawang merah. Hasil panen ini tidak berhenti di meja dapur. Sebagian diolah menjadi produk siap jual—Boncara (bubuk cabai kemasan), sambal, serta buah dan sayuran segar yang dipasarkan ke lingkungan sekitar.
“Kami merasakan banyak manfaat dari pemanfaatan lahan RPTRA sebagai kawasan urban farming. Selain membantu memenuhi kebutuhan sayuran masyarakat, hasil panen juga dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang memberikan tambahan pendapatan bagi kelompok,” ujar Sumi, anggota Kelompok Rawa Jaya.
Program ini tidak sekadar bercocok tanam. Pertamina dan warga menerapkan prinsip ekonomi sirkular. Sisa hasil panen yang tidak termanfaatkan diolah menjadi pupuk kompos. Pupuk itu kembali digunakan untuk menyuburkan lahan Kebun Gizi Rawajaya. Dengan begitu, tercipta siklus produksi yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan mengurangi limbah organik.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional JBB, Susanto August Satria, menyebut program ini sebagai wujud komitmen perusahaan terhadap pemberdayaan masyarakat. “Melalui pengelolaan lahan produktif berbasis urban farming, kami berharap masyarakat dapat memperoleh nilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan di lingkungan sekitar,” kata Satria dalam keterangan resminya.
Sumi berharap Pertamina tidak berhenti di tahap panen perdana. Ia ingin pendampingan terus berlanjut agar kelompoknya bisa menghasilkan lebih banyak produk inovatif dari hasil panen lokal. Saat ini, 20 anggota Kelompok Rawa Jaya aktif mengelola kawasan urban farming tersebut, didampingi perwakilan Kelurahan Pondok Kopi.
Program Kebun Gizi Rawajaya menjadi salah satu contoh bagaimana BUMN bisa mendorong ketahanan pangan dari tingkat kelurahan. Dengan mengubah RPTRA yang biasanya hanya menjadi ruang terbuka hijau menjadi lahan produktif, Pertamina menciptakan dampak ekonomi langsung bagi warga—sekaligus membangun kebiasaan bertani di tengah hiruk-pikuk Jakarta.