Aktivis Muda Aceh Dorong Kepemimpinan Kolaboratif Kelola Blok Andaman, Buka Ruang bagi Akademisi dan Profesional

Penulis: Yasir  •  Jumat, 12 Juni 2026 | 20:44:31 WIB
Aktivis muda Aceh dorong keterlibatan akademisi dan profesional dalam pengelolaan Blok Andaman.

BANDA ACEH — Potensi besar cadangan gas alam di Blok Andaman tak hanya soal angka investasi atau volume produksi. Rezki Oktian, aktivis muda yang juga mantan Ketua GenBI Komisariat Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh, menilai keberhasilan pengelolaan sumber daya alam itu sangat bergantung pada kualitas tata kelola dan keterbukaan pemerintah terhadap gagasan publik.

Modal Besar: Kekayaan Alam dan SDM Aceh

Rezki menyebut Aceh memiliki dua modal strategis: kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas. Ia mencontohkan banyaknya akademisi serta praktisi migas asal Aceh yang aktif menyampaikan analisis melalui seminar, forum diskusi, hingga media sosial.

"Blok Andaman bukan hanya soal cadangan gas yang besar. Ini momentum membuktikan bahwa Aceh mampu mengelola kekayaan alam dengan melibatkan seluruh potensi SDM," kata Rezki kepada Dialeksis.com, Jumat (12/6/2026).

Pendekatan 'One Man Show' Dinilai Tak Lagi Relevan

Menurut Rezki, industri migas sangat kompleks dan melibatkan aspek teknis, ekonomi, sosial, lingkungan, hingga geopolitik. Pengambilan keputusan yang hanya bertumpu pada segelintir pihak berisiko mengabaikan perspektif penting.

"Pengelolaan migas bukan persoalan sederhana. Pendekatan one man show sudah tidak relevan lagi. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu mengorkestrasi berbagai gagasan dan keahlian menjadi satu kekuatan pembangunan," ujarnya.

Apa yang Diharapkan Rakyat Aceh?

Rezki menegaskan, harapan masyarakat bukan sekadar gas diambil dari perut bumi. Yang lebih penting adalah lahirnya lapangan kerja berkualitas, tumbuhnya industri hilir, serta peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

"Keberhasilan migas tidak boleh hanya diukur dari besarnya pendapatan daerah. Ukuran utamanya adalah sejauh mana kesejahteraan masyarakat meningkat," tegasnya.

Ia mengingatkan pengalaman daerah penghasil sumber daya alam di berbagai negara menunjukkan bahwa kekayaan alam tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan tanpa tata kelola yang partisipatif. Sejak tahap perencanaan hingga pengawasan, prinsip transparansi dan akuntabilitas harus dikedepankan.

Reporter: Yasir
Sumber: dialeksis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top